Gaji di Jepang Naik 5,37% Tiga Tahun Beruntun, Rekor Tertinggi sejak 1976
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata kenaikan gaji bulanan di perusahaan besar Jepang mencapai 5,37% pada 2026, tertinggi dalam catatan sejak 1976.
- Sektor teknologi informasi memimpin dengan kenaikan 8,28%, didorong kebutuhan talenta digital dan AI.
- Tren ini diproyeksikan berlanjut seiring laba bersih perusahaan Jepang yang diperkirakan mencetak rekor enam tahun berturut-turut.

Perusahaan-perusahaan besar Jepang kembali menyetujui kenaikan upah bulanan di atas 5 persen untuk tahun ketiga beruntun pada 2026. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa perekonomian Negeri Sakura tengah berada dalam fase pemulihan yang solid, meski dibayangi ketidakpastian global.
Federasi Bisnis Jepang, atau Keidanren, melaporkan bahwa dari 146 perusahaan anggota dengan jumlah karyawan minimal 500 orang, rata-rata kenaikan gaji mencapai 5,37 persen. Secara nominal, kenaikan tersebut setara dengan 19.752 yen atau sekitar 125 dolar AS per bulanโangka tertinggi sejak metode pengumpulan data ini diperkenalkan pada 1976.
Ini merupakan pertama kalinya sejak periode 1989โ1991 kenaikan upah berhasil menembus 5 persen selama tiga tahun berturut-turut. Keidanren menilai tren ini mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang kuat, sekaligus upaya serius untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja yang kian akut.
Menurut analis, dorongan utama di balik kenaikan ini adalah sektor teknologi yang tengah berkembang pesat berkat ledakan permintaan kecerdasan buatan (AI). Sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan upah tertinggi, mencapai 8,28 persen, seiring perusahaan berlomba merebut dan mempertahankan talenta digital. Sektor percetakan menyusul dengan 6,81 persen, dan konstruksi di angka 6,76 persen.
Menariknya, sektor konstruksi justru memberikan kenaikan tertinggi secara nominal, yakni 37.727 yen per bulan. Hal ini tidak lepas dari kelangkaan tenaga kerja kronis yang memaksa perusahaan menawarkan kompensasi lebih kompetitif untuk menarik pekerja.
"Meskipun ada risiko besar seperti krisis di Timur Tengah, kami berharap perusahaan akan semakin memperkuat momentum kenaikan upah ini," ujar seorang pejabat Keidanren.
Bagi Indonesia, tren ini memiliki relevansi ganda. Pertama, meningkatnya upah di Jepang berpotensi mendorong kenaikan investasi perusahaan Jepang di Indonesia, terutama di sektor manufaktur dan teknologi. Kedua, bagi pekerja migran Indonesia yang banyak terserap di sektor manufaktur dan konstruksi Jepang, kenaikan upah ini berarti peningkatan remitansi yang dapat mendongkrak konsumsi domestik. Namun, di sisi lain, persaingan tenaga kerja terampil antara Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya akan semakin ketat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah momentum ini dapat bertahan di tengah perlambatan ekonomi global dan ketegangan geopolitik. Keidanren optimistis, terutama karena laba bersih perusahaan besar Jepang diperkirakan kembali mencetak rekor untuk tahun keenam beruntun. Namun, apakah kenaikan upah ini akan diikuti oleh produktivitas yang memadai? Atau justru menjadi beban bagi daya saing perusahaan di pasar global? Hanya waktu yang akan menjawab.



