Avalanche di Broad Peak Tewaskan Enam Pemandu Nepal: Pukulan Telak bagi Komunitas Pendaki
Baca dalam 60 detik
- Enam pendaki Nepal, termasuk legenda Nirmal Purja, tewas tertimbun longsoran salju di Broad Peak, Pakistan, pekan lalu.
- Mereka adalah generasi pemandu yang merevolusi pendakian Himalaya dan Karakoram, mengubah persepsi global terhadap peran Sherpa.
- Tragedi ini memicu pertanyaan tentang masa depan industri pendakian komersial dan keselamatan di pegunungan berisiko tinggi.

Longsoran salju yang menerjang Broad Peak di Pakistan pekan lalu menewaskan enam pendaki Nepal, termasuk Nirmal Purja, ikon pendakian dunia yang dikenal karena menaklukkan 14 puncak tertinggi dunia dalam waktu enam bulan. Kejadian ini tidak hanya mengguncang komunitas pendaki internasional, tetapi juga menjadi pukulan telak bagi Nepal, negara yang selama ini menjadi pemasok utama pemandu gunung profesional.
Korban tewas bukanlah pendaki sembarangan. Mereka adalah generasi pemandu yang telah mencatatkan berbagai rekor dan mendefinisikan ulang profesi Sherpaโyang sebelumnya sering dianggap sekadar asistenโmenjadi tokoh sentral dalam ekspedisi gunung. Nama-nama seperti Kili Pemba Sherpa, yang baru saja meraih Grand Slam pendakian setelah menuntaskan 14 puncak tertinggi pada awal Juli, dan Pur Bahadur Gurung, salah satu dari hanya 100 pemandu Nepal yang tersertifikasi IFMGA, ikut menjadi korban.
Kematian mereka meninggalkan duka mendalam di Nepal. Gyanendra Shrestha, pejabat pemerintah yang pernah berada di Base Camp saat Kili Pemba memandu pendaki difabel, mengenangnya sebagai pribadi rendah hati yang sangat berdedikasi. "Itu tugas terberat bagi pemandu mana pun, dan dia melakukannya dengan penuh perhatian," ujarnya. Sementara itu, Himal Gautam, juru bicara departemen pariwisata Nepal, menyebut kehilangan ini sebagai "kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya".
Broad Peak, gunung tertinggi ke-12 di dunia, memang dikenal memiliki tantangan ekstrem. Namun, bagi para Sherpa, bekerja di Pakistan adalah pilihan yang hanya diambil oleh yang terbaik. Nima Rinji Sherpa, pendaki termuda yang menaklukkan 14 puncak pada 2024, menjelaskan bahwa di Karakoram, para pendaki harus memasang tali sendiri, memotong es, dan mendirikan kamp secara mandiri. "Bahkan di era pendakian komersial, kami mengalami pendakian gunung yang sesungguhnya, yang tradisional," katanya. Infrastruktur yang minim dan lokasi yang terpencil membuat operasi penyelamatan jauh lebih sulit dibandingkan di Himalaya Nepal yang memiliki jaringan helikopter dan pos bantuan.
Tragedi ini juga menyoroti peran Purja dalam mempopulerkan Pakistan sebagai destinasi pendakian. Keberhasilannya mendaki 14 puncak, yang didokumentasikan dalam film Netflix, telah menginspirasi banyak pemandu Nepal untuk mencoba peruntungan di Karakoram. Iswari Paudel, penjabat presiden Asosiasi Pendakian Nepal, menilai bahwa kesuksesan Purja "memberi keberanian bagi banyak orang untuk percaya bahwa mahkota pendakian ini benar-benar mungkin". Namun, Ben Ayers, jurnalis yang lama meliput Everest, mengingatkan bahwa hal ini juga "mempercepat komersialisasi dan risiko".
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan tingginya risiko di balik industri pendakian gunung yang semakin populer. Meski tidak banyak pendaki Indonesia yang menembus 8.000 meter, minat terhadap kegiatan ini terus tumbuh. Regulasi keselamatan dan standar pemandu di Indonesia masih jauh dari memadai, dan kecelakaan di gunung-gunung seperti Semeru atau Rinjani sering terjadi. Pelajaran dari Broad Peak adalah bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas.
Sejarah mencatat, bencana serupa tidak banyak mengubah perilaku pendaki. Alan Arnette, penulis dan pendaki berpengalaman, mengingatkan bahwa longsoran es di Everest pada 2014 yang menewaskan 16 Sherpa, atau insiden K2 pada 2008 yang menewaskan 11 pendaki, tidak membawa perubahan signifikan. "Saya ragu insiden Broad Peak akan berdampak besar, mengingat sejarah. Saya harap saya salah," katanya. Pertanyaannya, apakah industri pendakian akan benar-benar belajar dari tragedi ini, atau justru semakin menarik bagi mereka yang haus tantangan dan ketenaran?



