Rumah Chad le Clos Ludes Terbakar Semalam Setelah Cetak Rekor Commonwealth
Baca dalam 60 detik
- Perenang Afrika Selatan Chad le Clos kehilangan tempat tinggalnya di Cape Town akibat kebakaran yang menewaskan seorang tetangga, hanya sehari setelah ia memecahkan rekor perolehan medali Commonwealth.
- Dengan 21 medali, le Clos kini menjadi atlet paling sukses dalam sejarah Commonwealth Games, melampaui rekor Emma McKeon dari Australia.
- Di tengah duka, le Clos meluncurkan kampanye penggalangan dana untuk membantu warga yang terkena dampak kebakaran, menunjukkan solidaritas di saat krisis.

Perenang legendaris Afrika Selatan, Chad le Clos, harus merelakan rumahnya di Sea Point, Cape Town, hangus dilalap api pada 30 Juli lalu—hanya beberapa jam setelah ia mengukir namanya sebagai atlet dengan koleksi medali terbanyak dalam sejarah Commonwealth Games. Kebakaran yang melanda kompleks apartemennya itu juga merenggut nyawa seorang tetangga berusia 93 tahun, sebuah tragedi yang datang di tengah puncak karier sang atlet.
Le Clos, yang kini berusia 34 tahun, baru saja mempersembahkan medali perunggu untuk Afrika Selatan pada nomor estafet gaya ganti 4x100 meter putra di Glasgow. Medali tersebut menjadi yang ke-21 baginya sepanjang kariernya di ajang Commonwealth Games, sekaligus menggeser posisi perenang Australia, Emma McKeon, sebagai atlet paling banyak meraih medali dalam sejarah pesta olahraga antarnegara Persemakmuran tersebut. Sebelumnya, ia juga menyabet perak pada estafet gaya ganti campuran 4x100 meter dan perunggu pada estafet gaya bebas 4x100 meter putra.
Namun, kegembiraan itu sirna seketika. Melalui unggahan di akun Instagramnya, le Clos mengungkapkan bahwa api dengan cepat menjalar dari blok apartemennya ke unit yang ia huni selama lebih dari satu dekade. "Tidak ada yang bisa diselamatkan," tulisnya, seraya menyampaikan belasungkawa mendalam untuk keluarga tetangganya yang menjadi korban jiwa. Ia juga menyebut bahwa komunitas di kawasan itu sangat erat, dan momen seperti ini adalah saatnya saling menguatkan.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik gemerlap prestasi, ada kehidupan pribadi yang rentan. Le Clos, yang namanya melambung setelah mengalahkan Michael Phelps di nomor 200 meter gaya kupu-kupu pada Olimpiade London 2012, kini harus memulai dari nol. Ia mengaku butuh waktu untuk memproses tragedi ini. Namun, di tengah duka, ia memilih untuk bertindak: meluncurkan kampanye penggalangan dana untuk membantu tetangga-tetangganya yang juga kehilangan tempat tinggal.
Karier le Clos memang penuh warna. Sejak meraih medali Commonwealth pertamanya di Delhi pada 2010 saat usianya masih 18 tahun, ia telah mengumpulkan empat medali Olimpiade, 16 gelar juara dunia, tujuh emas Commonwealth, dan sepuluh gelar juara Afrika. Namun, di balik deretan prestasi itu, ada sisi manusiawi yang sering terlupakan: atlet juga bisa menjadi korban bencana, dan ketangguhan mereka diuji tidak hanya di kolam renang, tetapi juga dalam menghadapi cobaan hidup.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah le Clos menyiratkan bahwa atlet papan atas pun tidak kebal terhadap musibah. Di tengah euforia kompetisi, penting bagi federasi olahraga dan pemerintah untuk memberikan dukungan tidak hanya pada performa, tetapi juga pada kesejahteraan atlet secara menyeluruh. Kebakaran seperti ini juga mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama di kawasan padat penduduk seperti Cape Town.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana le Clos akan bangkit. Apakah ia akan mampu mempertahankan performa puncaknya di tengah tekanan psikologis dan kehilangan harta benda? Atau justru tragedi ini akan menjadi bahan bakar baru untuk meraih lebih banyak medali? Yang jelas, semangat juang le Clos yang pernah mengalahkan raksasa renang dunia akan kembali diuji—kali ini di luar kolam renang.



