Perebutan Nomor 10 Springboks Memanas: Feinberg-Mngomezulu Siap Unjuk Gigi di Buenos Aires
Baca dalam 60 detik
- Feinberg-Mngomezulu kembali menjadi starter setelah cedera, menambah ketat persaingan posisi flyhalf Springboks.
- Pollard, Libbok, dan Feinberg-Mngomezulu bersaing untuk satu tempat di Piala Dunia 2027, dengan Erasmus memberi sinyal ketiganya bisa dibawa.
- Laga melawan Argentina menjadi ujian penting bagi Feinberg-Mngomezulu untuk mengamankan posisi inti sebelum menghadapi Selandia Baru.

Sacha Feinberg-Mngomezulu akhirnya mendapat kesempatan pertamanya di tahun 2026 untuk membela Springboks. Pemain berusia 24 tahun itu akan menjadi starter saat Afrika Selatan menghadapi Argentina di Buenos Aires, Sabtu (8/8). Ini bukan sekadar laga uji coba; ini adalah panggung pembuktian dalam persaingan sengit memperebutkan nomor punggung 10, posisi yang selama ini dihuni oleh para pemain bintang.
Feinberg-Mngomezulu harus menepi sejak akhir musim United Rugby Championship akibat cedera. Ia melewatkan tiga kemenangan Springboks atas Inggris, Skotlandia, dan Wales pada Juli lalu. Selama di bangku cadangan, ia hanya bisa menonton Handre Pollard, Manie Libbok, dan pemain muda Vusi Moyo bergantian menjadi pengatur serangan. Kini, pelatih Rassie Erasmus memberinya kepercayaan untuk tampil sejak menit pertama di Estadio Josรฉ Amalfitani.
Yang menarik, persaingan internal ini justru diwarnai suasana saling mendukung. Feinberg-Mngomezulu mengaku banyak belajar dari Pollard, yang dua kali menjadi juara dunia. "Saya rasa orang tidak mengerti seberapa besar kami saling membantu," ujarnya kepada wartawan, Selasa (4/8). "Hari ini, Handre bercerita tentang lapangan di Buenos Aires, dimensinya, seberapa dekat tribun dengan lapangan. Kami benar-benar menjaga satu sama lain."
Baginya, Pollard bukanlah pesaing, melainkan mentor dan teman. "Saya sangat menghormati Handre atas apa yang dia lakukan untuk negara dan tim ini. Tidak sedetik pun saya menganggapnya sebagai kompetitor," tegas Feinberg-Mngomezulu. Sikap ini mencerminkan budaya tim yang dibangun Erasmus, di mana para pemain saling mengangkat meski bersaing untuk posisi yang sama.
Erasmus sendiri telah menyatakan bahwa Feinberg-Mngomezulu, Libbok, dan Pollard akan dibawa ke Piala Dunia Rugby 2027 di Australia jika mereka tetap fit dan konsisten. Ini memberi sinyal bahwa persaingan ketat justru menguntungkan tim. Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada performa di lapangan, dan laga melawan Argentina menjadi ujian pertama bagi Feinberg-Mngomezulu untuk membuktikan diri.
Selain persaingan di posisi flyhalf, laga ini juga menampilkan duet baru yang berpotensi eksplosif. Feinberg-Mngomezulu akan dipasangkan dengan scrumhalf berusia 36 tahun, Cobus Reinach. Kombinasi keduanya diharapkan mampu memberikan variasi serangan yang sulit dibaca lawan. Feinberg-Mngomezulu mengaku nyaman bermain bersama Reinach. "Dia suka mengeluarkan kartu 'tua', tapi dia lebih bugar dari banyak pemain lain. Pengalamannya sangat membantu saya," katanya.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini mungkin terasa jauh, tetapi persaingan ketat di tim sekelas Springboks memberikan pelajaran tentang manajemen talenta dan kedalaman skuad. Tim nasional Indonesia, yang tengah berusaha naik kelas, bisa mencontoh bagaimana para pemain senior membimbing juniornya tanpa rasa cemburu. Ini adalah fondasi yang membuat Afrika Selatan tetap menjadi kekuatan besar di rugby dunia.
Setelah laga melawan Argentina, Springboks akan kembali ke Afrika Selatan untuk menghadapi musuh bebuyutan, Selandia Baru, dalam seri empat pertandingan yang dimulai di Johannesburg pada 22 Agustus. Feinberg-Mngomezulu tentu berharap penampilannya di Buenos Aires bisa meyakinkan Erasmus untuk mempertahankannya di skuad inti. Apakah ia mampu memanfaatkan peluang ini dan mengamankan tiket ke Australia? Jawabannya akan mulai terlihat akhir pekan ini.



