Startup AI Volta Infra Raup Valuasi Rp38 Triliun, Amankan Kontrak Cloud US$10 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Volta Infra, perusahaan rintisan AI berusia tujuh bulan, menembus valuasi US$2,4 miliar setelah mengantongi pendanaan awal dan kontrak jumbo.
- Kontrak senilai US$10 miliar dengan raksasa AI Anthropic disebut-sebut menjadi pendorong utama ekspansi infrastruktur cloud di Eropa.
- Langkah ini menegaskan perlombaan global penyediaan pusat data AI yang kian masif, berpotensi memengaruhi rantai pasok teknologi di Asia, termasuk Indonesia.

Volta Infra, perusahaan rintisan yang baru beroperasi tujuh bulan di bidang infrastruktur kecerdasan buatan (AI), berhasil mengamankan pendanaan dengan valuasi mencapai US$2,4 miliar. Di saat yang sama, perusahaan ini mengumumkan kontrak senilai US$10 miliar untuk menyediakan layanan komputasi awan di Eropa bersama Bitdeer Technologies, sebuah perusahaan penambang kripto. Langkah ini menandai akselerasi luar biasa bagi pemain baru di tengah derasnya kebutuhan komputasi untuk model AI berskala besar.
Kontrak senilai US$10 miliar tersebut, menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber internal, diduga kuat melibatkan Anthropic, perusahaan AI terkemuka di balik model Claude. Meski belum diverifikasi secara independen oleh Reuters, kesepakatan ini berdurasi enam tahun dan mencakup kapasitas komputasi di pusat data milik Bitdeer di Norwegia. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas 133 megawatt dan akan ditenagai oleh chip Nvidia Vera Rubin, generasi terbaru yang dirancang untuk menangani beban kerja AI intensif.
Volta Infra juga meluncurkan program infrastruktur AI senilai US$5 miliar bersama manajer aset Azora untuk membiayai pembangunan "pabrik AI" di berbagai lokasi. Proyek di Norwegia disebut sebagai yang pertama dari serangkaian proyek yang sedang dikembangkan, dengan total kapasitas lebih dari satu gigawatt di Amerika Utara dan Eropa. Ini menunjukkan bahwa Volta tidak hanya bermain di satu kawasan, tetapi memiliki ambisi besar untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok komputasi AI global.
Pendanaan awal Volta mencapai US$300 juta dari putaran seed dan Seri A, dengan dukungan investor besar seperti Azora, Andreessen Horowitz, Altimeter, dan Nvidia. Kehadiran Nvidia sebagai investor strategis memperkuat posisi Volta dalam mengakses teknologi chip terkini, sekaligus menjadi sinyal bahwa raksasa semikonduktor tersebut serius memperluas pengaruhnya di sektor infrastruktur AI.
Fenomena ini tidak lepas dari tren besar di industri teknologi: perusahaan AI seperti Anthropic, OpenAI, dan lainnya berlomba-lomba mengamankan kapasitas komputasi untuk melatih dan menjalankan model bahasa besar. Anthropic sendiri telah menjalin sejumlah kesepakatan komputasi dan investasi dengan raksasa teknologi seperti SpaceX, AMD, Microsoft, Nvidia, Alphabet, Amazon, dan Micron Technology. Langkah ini menunjukkan bahwa persaingan untuk menguasai infrastruktur AI semakin ketat, dengan pemain baru seperti Volta mencoba merebut pangsa pasar dari penyedia cloud tradisional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara dengan pasar digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menjadi target ekspansi bagi penyedia layanan cloud global. Namun, ketergantungan pada infrastruktur AI yang dibangun di luar negeri dapat menjadi tantangan jika tidak diimbangi dengan pengembangan kapasitas domestik. Pemerintah Indonesia sendiri tengah mendorong pembangunan pusat data nasional, namun kecepatan inovasi di sektor AI global menuntut langkah yang lebih agresif agar tidak tertinggal.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah model bisnis seperti yang dijalankan Volta akan mampu bertahan dalam jangka panjang. Dengan investasi besar dan kontrak jangka panjang, risiko yang dihadapi juga tidak kecil. Namun, jika berhasil, Volta bisa menjadi contoh bagaimana perusahaan rintisan dapat bersaing dengan raksasa teknologi dalam menyediakan infrastruktur penting bagi era AI. Bagi Indonesia, pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya membangun ekosistem yang mendukung inovasi dan investasi di bidang ini, agar tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi teknologi global.



