Napoli vs Dewan Kota: Perang Stadion Baru vs Renovasi Maradona Rp3,4 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Dewan kota Napoli mengusulkan renovasi Stadion Maradona senilai โฌ200 juta dengan target selesai 2030, menambah kapasitas menjadi 63.300 kursi.
- Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis, masih ngotot membangun stadion baru di luar kota, menolak renovasi yang dianggap tidak sesuai visi klub.
- Proyek ini menjadi bagian dari kandidatur Italia untuk EURO 2032, namun potensi konflik dengan klub bisa menghambat realisasi.

Dewan Kota Napoli akhirnya membuka kartu: Stadion Diego Armando Maradona akan direnovasi besar-besaran dengan anggaran mencapai โฌ200 juta atau setara Rp3,4 triliun. Namun, di balik ambisi pemerintah kota itu, Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis justru masih bersikukuh membangun kandang baru di luar kota. Perseteruan antara klub dan otoritas lokal kembali memanas, dan kali ini taruhannya adalah masa depan salah satu ikon sepak bola Italia.
Wali Kota Napoli, Gaetano Manfredi, memaparkan rencana tersebut dengan target penyelesaian pada 2030. Kapasitas stadion akan dinaikkan dari 54.732 menjadi 63.300 kursi. Langkah utamanya adalah menghapus lintasan atletik yang jarang digunakan dan menggantinya dengan tribun penonton yang lebih dekat ke lapangan. Selain itu, akan dibangun 16 sky box untuk tamu VIP dan korporat, area parkir baru, serta ruang hijau untuk warga sekitar. Proyek ini juga diklaim akan membuat stadion lebih ramah lingkungan, mandiri energi dan air, serta bisa digunakan tujuh hari seminggu.
Asesor infrastruktur Edoardo Cosenza menyatakan bahwa proposal ini telah diajukan ke FIGC dan UEFA sebagai bagian dari kandidatur Italia untuk menjadi tuan rumah EURO 2032. "Dengan mempertahankan struktur asli, kami bisa memiliki stadion yang sepenuhnya berkelanjutan, mandiri energi dan air, dengan fokus pada aksesibilitas. Stadion ini bisa diubah agar bisa dinikmati tujuh hari seminggu," ujarnya. Namun, ia juga mengakui bahwa tantangan terbesar adalah menjaga stadion tetap beroperasi selama renovasi, sebuah masalah yang sempat menghambat rencana San Siro.
Di sisi lain, De Laurentiis belum memberikan respons resmi terhadap proposal tersebut. Sejak lama, ia menginginkan stadion baru yang dibangun khusus untuk klub, dengan fasilitas modern dan pendapatan tambahan dari ritel serta hiburan. Baginya, renovasi Maradona hanyalah solusi jangka pendek yang tidak sejalan dengan visi bisnis klub. Konflik semacam ini sebenarnya bukan hal baru di Italia, di mana klub-klub besar kerap berselisih dengan pemerintah kota soal kepemilikan dan pengelolaan stadion. Juventus adalah satu-satunya klub yang berhasil membangun stadion sendiri, sementara Inter dan Milan masih terkatung-katung dengan proyek San Siro.
Bagi Indonesia, kisruh ini relevan dengan wacana renovasi stadion-stadion tua seperti Gelora Bung Karno atau Stadion Utama Palaran. Pemerintah seringkali memilih renovasi karena biaya lebih murah dan cepat, sementara klub atau pengelola menginginkan stadion baru yang lebih produktif secara komersial. Pengalaman Napoli menunjukkan bahwa tanpa kesepakatan antara pemangku kepentingan, proyek infrastruktur olahraga bisa mandek bertahun-tahun. Padahal, stadion modern bukan hanya tempat pertandingan, tetapi juga pusat ekonomi yang mampu menghidupkan kawasan sekitarnya.
Jika De Laurentiis tetap menolak, ada dua skenario yang mungkin terjadi: pertama, klub tetap bermain di Maradona yang direnovasi dengan kompensasi dari pemerintah kota; kedua, Napoli memutuskan membangun stadion baru secara mandiri, seperti yang dilakukan Juventus. Namun, opsi kedua membutuhkan investasi besar dan izin yang rumit. Pertanyaannya, akankah kedua pihak mencapai kompromi sebelum 2030? Atau justru Napoli akan kehilangan kesempatan menjadi tuan rumah EURO 2032? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: sepak bola Italia sedang berada di persimpangan antara tradisi dan modernisasi.



