Amorim Pasang Target Berani di Milan: Scudetto dan Europa League Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar AC Milan, Rúben Amorim, menegaskan ambisi timnya untuk merebut gelar Serie A dan trofi Liga Europa di musim perdananya.
- Meski tengah dalam masa transisi, Amorim menilai target tinggi itu realistis mengingat status Milan sebagai klub besar Italia.
- Kepulangan Milan ke Liga Champions menjadi fondasi penting dalam rencana jangka panjang sang pelatih asal Portugal tersebut.

Rúben Amorim, pelatih anyar AC Milan, secara terbuka memasang target ambisius untuk musim perdananya di San Siro: membawa Rossoneri meraih Scudetto sekaligus menjuarai Liga Europa. Pernyataan ini disampaikan di tengah proses rekonstruksi skuad yang tengah berjalan, menunjukkan bahwa ia tidak berniat menurunkan standar meski menghadapi banyak pekerjaan rumah.
Dalam wawancara yang dikutip Calciomercato, Amorim menolak meremehkan ekspektasi. Ia menegaskan bahwa ketika menangani klub sekelas Milan, target juara bukanlah sekadar mimpi, melainkan kewajiban. "Saya tidak bisa datang ke sini dan berkata kami tidak bisa atau tidak ingin memenangkan gelar," ujarnya. "Banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dengan pelatih baru dan perubahan skuad, tetapi ketika Anda berada di klub sekelas Milan, Anda harus membidik gelar. Jadi kami akan mencoba."
Ambisi serupa juga ia sampaikan untuk pentas Eropa. "Di Liga Europa, kami harus percaya dan kami harus ingin memenangkan kompetisi ini," tegas Amorim. Sikap ini menjadi sinyal kuat bahwa ia ingin membangun mentalitas pemenang di dalam tim, meskipun ia sadar bahwa perjalanan menuju puncak tidak akan instan.
Meski berbicara dengan nada optimistis, Amorim tetap menekankan pentingnya kesabaran. Ia menggarisbawahi bahwa kembalinya Milan ke Liga Champions merupakan langkah fundamental bagi perkembangan klub. "Semua orang menginginkan segalanya segera, tetapi hal-hal yang dilakukan dengan baik membutuhkan waktu," katanya. "Pilihan saya adalah melakukan hal yang benar pada momen yang tepat."
Sebagai bukti awal perkembangan, Amorim merujuk pada laga derby pra-musim melawan Inter Milan. Ia menilai timnya menunjukkan peningkatan dibandingkan pertandingan sebelumnya melawan Celtic, meskipun lawan yang dihadapi adalah tim yang telah lama bersama dan kerap meraih gelar. "Saya melihat peningkatan dibandingkan laga melawan Celtic, dan jangan lupa kami menghadapi tim yang telah bersama bertahun-tahun dan memenangkan liga berkali-kali," ungkapnya. Ia juga mengakui para pemainnya masih "mengalami tekanan fisik" akibat adaptasi dengan gaya bermain baru.
Menjelang laga pembuka musim, Amorim berjanji Milan akan tampil sebagai tim yang berbeda dengan gaya bermain yang jelas, meskipun ia mengakui masih jauh dari sempurna. "Kami akan menjadi tim yang berbeda, bermain dengan gaya yang presisi," janjinya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pernyataan Amorim ini menarik karena menunjukkan bagaimana pelatih top Eropa mengelola ekspektasi di klub besar. Di tengah hiruk-pikuk bursa transfer dan tekanan suporter, ia memilih untuk tetap optimistis namun realistis. Ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Indonesia yang kerap kali terburu-buru menuntut hasil instan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Milan mampu konsisten menjaga performa di dua kompetisi sekaligus. Dengan jadwal padat dan persaingan ketat di Serie A, rotasi pemain akan menjadi kunci. Akankah Amorim mampu menyeimbangkan ambisi domestik dan Eropa tanpa mengorbankan kualitas permainan? Musim ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi filosofi dan strategi sang pelatih.



