Changi Airport Luncurkan Kursi Roda Otonom untuk Penumpang Transit, Mampukah Diadopsi di Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Bandara Changi memulai fase awal penggunaan 18 kursi roda otonom di Terminal 2 dan 3 untuk penumpang transit dengan mobilitas terbatas.
- Layanan ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan staf, seiring meningkatnya permintaan bantuan kursi roda hingga 20% dalam dua tahun terakhir.
- Keberhasilan uji coba yang melibatkan 13.000 penumpang menjadi pijakan bagi perluasan layanan, namun adopsi di Indonesia masih menghadapi tantangan infrastruktur dan investasi.

Bandara Internasional Changi Singapura resmi mengoperasikan kursi roda otonom di area transit Terminal 2 dan 3, sebuah langkah yang menandai babak baru dalam layanan bantuan mobilitas bagi penumpang dengan keterbatasan gerak. Inisiatif ini hadir di tengah lonjakan permintaan layanan kursi roda yang mencapai 2.300 permintaan per hari di bandara tersebut, dengan 80 persen di antaranya berasal dari penumpang transit.
Langkah ini merupakan respons atas meningkatnya kebutuhan akan layanan bantuan khusus, seiring dengan bertambahnya usia populasi dan pertumbuhan lalu lintas udara. Data menunjukkan permintaan layanan kursi roda di Changi melonjak 20 persen antara 2023 dan 2025. Dengan hadirnya kursi roda otonom, bandara berharap dapat mengurangi beban staf yang selama ini harus mendampingi penumpang secara satu per satu, sehingga mereka dapat fokus pada penumpang dengan kebutuhan perawatan yang lebih tinggi.
Pada tahap awal, masing-masing terminal menyediakan sembilan unit kursi roda otonom yang beroperasi di area transit. Meski belum dapat berpindah antar terminal, layanan ini melengkapi moda bantuan yang sudah ada seperti buggy, e-caddy, dan kursi roda manual. Menariknya, kursi roda otonom ini hanya dapat digunakan oleh penumpang transit dari maskapai yang dilayani SATS, mitra ground handling Changi, dan tidak dapat dipesan secara khusus saat pembelian tiket. Layanan ini juga hanya diperuntukkan bagi penumpang dengan waktu transit lebih dari 90 menit dan yang masih mampu berjalan dalam jarak pendek.
Dalam demonstrasi yang dilakukan, kursi roda otonom ini memperlihatkan kemampuan adaptifnya: melambat di area pertokoan sambil memutar musik untuk memberi tahu pejalan kaki, berhenti otomatis saat jalurnya terhalang, serta memberi sinyal agar orang menyingkir. Kursi roda ini mampu membawa penumpang hingga berat 136 kilogram dengan kecepatan maksimum 3,5 kilometer per jam, cukup lambat untuk memungkinkan anggota keluarga berjalan berdampingan. Rute yang dilalui telah ditentukan sebelumnya di area keberangkatan, dan setiap perjalanan dipantau oleh pengawas di pusat kendali SATS. Sensor mendeteksi hambatan dan lalu lintas pejalan kaki di sepanjang rute.
Fitur keselamatan menjadi prioritas: sabuk pengaman yang harus dikencangkan sebelum kursi bergerak, tombol berhenti darurat, dan tombol panggilan bantuan. Terdapat pula keranjang belakang untuk bagasi kabin hingga 10 kilogram, serta panel kontrol yang memungkinkan penumpang menghentikan kursi atau meminta bantuan staf. Baterai yang dapat ditukar memiliki daya tahan hingga tujuh jam per pengisian.
Peluncuran ini merupakan hasil uji coba operasional yang berlangsung dari Maret 2025 hingga Juni 2026, melibatkan 10 kursi roda otonom dan lebih dari 13.000 penumpang. Uji coba dilakukan di rute yang telah ditentukan di area transit Terminal 2 dan 3, termasuk perjalanan antar gerbang keberangkatan, area tunggu, dan transfer gate-to-gate. Sebelum uji coba dengan penumpang, Changi telah menguji kecepatan, deteksi hambatan, dan navigasi untuk memastikan keamanan. Bandara juga mengadakan kunjungan belajar dan keterlibatan industri untuk mempelajari penggunaan kursi roda otonom di bandara lain.
Menanggapi rencana penambahan unit, Edwin Tan, vice-president SATS untuk layanan terminal, menyebut 18 unit adalah angka yang โnyamanโ untuk saat ini. โSeiring kami belajar dan berkembang, kami mungkin memutuskan untuk menambah. Masih tahap awal,โ ujarnya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa Changi masih akan mengevaluasi efektivitas layanan sebelum melakukan ekspansi lebih lanjut.
Bagi Indonesia, inovasi ini menjadi cermin bagi pengelola bandara seperti Soekarno-Hatta atau Ngurah Rai. Dengan jumlah penumpang transit yang terus bertumbuh, adopsi teknologi serupa dapat menjadi nilai tambah, namun membutuhkan investasi besar dan adaptasi infrastruktur. Pertanyaannya, apakah bandara-bandara di Indonesia siap mengikuti jejak Changi dalam menghadirkan layanan berbasis otonomi untuk meningkatkan pengalaman penumpang? Atau akankah ketergantungan pada bantuan manual masih menjadi pilihan utama dalam beberapa tahun ke depan?



