Arus Modal Asing Membalik: Net Buy Rp1,62 Triliun di Juli Jadi Sinyal Kepercayaan Pasar?
Baca dalam 60 detik
- Investor asing tercatat membeli saham domestik senilai Rp1,62 triliun pada Juli, mengakhiri tren jual bersih sejak awal tahun.
- Penguatan IHSG sebesar 10,51 persen dalam sebulan dan menyempitnya bid-ask spread menjadi indikator membaiknya likuiditas pasar modal.
- Minat asing terhadap SBN dan reksa dana tetap tinggi, menandakan optimisme berkelanjutan terhadap instrumen keuangan Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat arus dana asing di pasar saham domestik berbalik arah menjadi positif pada Juli 2026, dengan posisi net buy mencapai Rp1,62 triliun โ sebuah sinyal bahwa kepercayaan investor global mulai pulih setelah tekanan jual yang berlangsung sejak awal tahun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa perbaikan ini sejalan dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melesat ke level 6.236,13 pada akhir Juli, atau menguat 10,51 persen secara month-to-month. Angka ini menjadi penanda berakhirnya fase koreksi yang sempat membayangi pasar ekuitas Tanah Air.
Lebih dari sekadar angka, pembalikan arah ini mencerminkan membaiknya likuiditas dan resiliensi pasar. Rata-rata bid-ask spread, indikator ketebalan pasar, menyempit menjadi 1,33 persen dari 1,75 persen pada bulan sebelumnya. "Ini tentu sejalan dengan arah pemulihan pergerakan harga-harga saham di pasar kita," ujar Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan di Jakarta, Selasa.
Di pasar obligasi, optimisme serupa turut terlihat. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat 0,14 persen secara bulanan, sementara investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp6,39 triliun pada Surat Berharga Negara (SBN) hingga 29 Juli. Hal ini menunjukkan bahwa selain mencari cuan dari saham, asing juga masih memandang instrumen utang pemerintah sebagai pilihan yang aman di tengah ketidakpastian global.
Di sisi industri pengelolaan investasi, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp663,26 triliun per 30 Juli, naik 1,59 persen secara month-to-date. Investor ritel pun ikut bergairah dengan net subscription Rp3,43 triliun pada bulan yang sama, meskipun secara year-to-date angkanya baru mencapai Rp1,29 triliun. Artinya, kepercayaan investor domestik mulai terbangun, meski belum sepenuhnya pulih.
Bagi investor Indonesia, kabar ini menjadi angin segar di tengah gejolak ekonomi global. Namun, perlu dicermati bahwa pembalikan arus dana asing belum tentu permanen. Faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed, tensi geopolitik, dan harga komoditas masih bisa mengubah arah. OJK sendiri menilai bahwa resiliensi pasar modal domestik tetap terjaga, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah momentum ini akan bertahan hingga akhir tahun. Dengan data ekonomi domestik yang solid dan minat asing yang kembali menguat, peluang untuk melanjutkan tren positif tampak terbuka. Namun, investor ritel disarankan untuk tetap selektif dan tidak terjebak euforia sesaat, mengingat volatilitas masih menjadi ciri pasar tahun ini.



