Harga Minyak Menguat di Tengah Ketidakpastian Rencana Iran soal Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Kekhawatiran atas rencana Iran memberlakukan biaya dan larangan bagi kapal asing di Selat Hormuz mendorong harga minyak naik tipis pada Jumat (7/8).
- Analis menilai pasar tidak memperhitungkan kesepakatan penuh, melainkan koridor transit yang dikelola dengan syarat ketat, sehingga risiko gangguan pasokan tetap tinggi.
- Keputusan Iran dan respons negara-negara Teluk akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan, dengan implikasi langsung pada harga energi domestik Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat (7/8) di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap langkah Iran yang berencana memberlakukan aturan baru bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Brent naik 0,9 persen ke level 83,24 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,5 persen ke 77,71 dolar AS. Pergerakan ini terjadi sehari setelah harga minyak melonjak lebih dari 3 dolar AS menyusul kabar bahwa parlemen Iran tengah mengkaji rancangan undang-undang yang melarang kapal asal Amerika Serikat dan Israel melintasi jalur strategis tersebut.
Selat Hormuz selama ini menjadi urat nadi pasokan energi global, mengalirkan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia dan gas alam cair (LNG) sebelum konflik pecah pada akhir Februari. Rencana Iran untuk mengenakan biaya lintas sebesar 5โ7 persen dari nilai kargo, sementara Oman mengusulkan tarif sekitar 3 persen dan Amerika Serikat menolak pungutan apa pun, menciptakan ketidakpastian baru di pasar. Empat sumber industri menyebut kesepakatan yang tengah dirundingkan sulit diimplementasikan karena sanksi AS dan klausul asuransi yang membatasi pembayaran.
Analis Rystad Energy, Lin Ye, menilai pergerakan harga saat ini bukan cerminan pasar yang memperhitungkan kesepakatan buruk, melainkan konfirmasi bahwa apa pun hasil negosiasi, yang muncul hanyalah koridor transit yang dikelola dengan syarat ketatโbukan pemulihan aliran normal. "Pasar memberi sinyal bahwa normalisasi penuh masih jauh," ujarnya. Sementara itu, Vandana Hari dari Vanda Insights menggarisbawahi bahwa meskipun sinyal kesepakatan pekan ini memicu fluktuasi tajam, pasar masih gamang mengenai langkah konkret yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan final.
Di tengah dinamika tersebut, serangan rudal dan drone yang dilancarkan kelompok Houthi Yaman terhadap posisi militer Arab Saudi di Marib dan Hadramout pada Kamis (6/8) menambah eskalasi ketegangan regional. Presiden AS Donald Trump optimistis perang akan segera berakhir, namun pernyataan itu tidak serta-merta meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Investor kini juga menanti data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat, yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Suku bunga tinggi berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak global.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap anggaran subsidi energi dan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Setiap kenaikan harga minyak mentah akan menekan APBN, terutama ketika pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi. Jika ketegangan di Selat Hormuz berlarut, risiko kenaikan harga minyak impor akan membebani defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah. Namun, di sisi lain, Indonesia yang merupakan net importir minyak justru diuntungkan jika harga minyak turun, seperti yang sempat terjadi pada awal pekan ini ketika prospek solusi konflik memicu pelemahan harga.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah Iran benar-benar memberlakukan aturan baru atau mencapai kompromi dengan negara-negara Teluk dan AS. Pertanyaan besarnya: mampukah negosiasi menghasilkan kesepakatan yang dapat diprediksi, atau justru memicu konfrontasi baru yang mengganggu pasokan energi global? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan mendatang, sekaligus menjadi penentu utama stabilitas ekonomi di kawasan Asia, termasuk Indonesia.



