Perenang Skotlandia dengan Tumor Otak Desak Pemerintah Inggris: 'Beri Kami Kesempatan Bertahan Hidup'
Baca dalam 60 detik
- Archie Goodburn, perenang asal Skotlandia, secara emosional meminta Perdana Menteri Inggris Andy Burnham untuk meningkatkan pendanaan riset kanker otak.
- Undang-Undang Kanker Langka yang baru disahkan dinilai tidak cukup karena hanya menyediakan 36 hari kerja per tahun untuk dua pos peneliti yang menangani 14 jenis kanker.
- Goodburn menyoroti ketertinggalan Inggris dalam akses uji klinis internasional yang berpotensi menyelamatkan nyawa, dan bertekad terus berjuang meski prognosisnya terbatas.

Archie Goodburn, perenang asal Skotlandia yang didiagnosis tumor otak ganas dua tahun lalu, menangis di depan kamera saat memohon kepada Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, untuk mengalokasikan lebih banyak dana dan sumber daya bagi riset kanker otak. Dalam wawancara di BBC Breakfast, atlet berusia 25 tahun itu menyebut penderitaan pasien dan keluarga mereka "tak tertahankan" dan menuntut adanya perubahan nyata dalam penanganan penyakit yang menjadi pembunuh terbesar pasien di bawah 40 tahun ini.
Goodburn, yang baru saja berlaga di Commonwealth Games Glasgow, menegaskan bahwa tanpa intervensi serius, masa depan generasi muda Inggris terancam. "Andy Burnham, jika Anda percaya dan ingin membuat perubahan bagi masa depan negara dan populasi muda kami, tolong dengarkan kami," ujarnya dengan suara bergetar. Ia mendesak pembentukan kepemimpinan nasional khusus untuk kanker otak, sebuah pos yang menurutnya krusial untuk mempercepat riset dan akses pengobatan.
Atlet yang juga berhasil mencapai final 50 meter gaya dada ini menyoroti ketidakadilan akses terhadap uji klinis. "Ada uji klinis di seluruh dunia, di AS, Australia, China, yang bisa mengubah hidup. Kami tidak melihatnya di Inggris, dan itu tidak adil," tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi kesenjangan antara kemajuan global dan keterbatasan yang dialami pasien di Inggris, sebuah ironi yang memicu kemarahan publik.
Undang-Undang Kanker Langka yang diprakarsai oleh anggota parlemen Scott Arthur memang telah disahkan tahun ini. Namun, Goodburn menilai langkah tersebut tidak cukup. "Ini langkah ke arah yang benar, tetapi tidak akan membuat perubahan yang kita butuhkan," katanya. Ia mengkritik alokasi waktu yang minim: dua pos peneliti paruh waktu yang menangani 14 jenis kanker hanya memiliki total 36 hari kerja per tahun. "Saya tidak melihat bagaimana 36 hari setahun bisa mengubah lanskap pengobatan untuk 14 jenis kanker, apalagi untuk jenis yang paling mematikan," sindirnya.
Kritik Goodburn menyoroti masalah mendasar dalam kebijakan kesehatan Inggris: fokus pada kelangkaan diagnosis sering mengabaikan tingkat mortalitas. Kanker otak, meski jarang, memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Data menunjukkan bahwa penyakit ini membunuh lebih banyak orang di bawah 40 tahun dibandingkan jenis kanker lain, menjadikannya prioritas yang mendesak namun kerap terabaikan.
Di tengah perjuangannya, Goodburn tetap tampil di Commonwealth Games Glasgow dan meraih sambutan meriah dari publik. Meski gagal meraih medali, ia menganggap penampilannya sebagai bentuk pengabdian. "Apa yang saya lakukan di kolam renang hanya mungkin terjadi berkat kemajuan medis dan kampanye komunitas. Ini kesempatan untuk memberi kembali dan memastikan momentum terus berjalan," ujarnya. Dukungan penonton, menurutnya, menjadi pengingat bahwa perjuangannya tidak sendirian.
Bagi Indonesia, kisah Goodburn relevan dengan kondisi riset kanker di tanah air. Angka kejadian kanker otak di Indonesia memang lebih rendah dibandingkan negara maju, namun tingkat kematiannya tetap tinggi karena keterbatasan deteksi dini dan akses pengobatan. Pemerintah Indonesia tengah mendorong pengembangan riset onkologi, namun alokasi dana dan sumber daya manusia masih jauh dari ideal. Kasus ini menjadi pelajaran bahwa kebijakan yang tampak progresif bisa gagal jika tidak diikuti komitmen pendanaan yang memadai.
Goodburn menegaskan akan terus berjuang meski prognosisnya tidak pasti. "Ketika Anda benar-benar terpojok, hanya ada satu jalan: melawan," katanya. Pertanyaan yang menggantung: apakah pemerintah Inggris akan merespons permohonan ini dengan kebijakan yang lebih berani, atau membiarkan pasien seperti Goodburn berjuang sendirian? Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib ribuan pasien, tetapi juga kredibilitas sistem kesehatan Inggris di mata dunia.



