Tate McRae Akui Alami Kelelahan Pasca Tur: 'Aku Ingin Menghilang dari Cermin Selama Enam Bulan'
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Greedy' tengah bereksperimen dengan berbagai nuansa musik untuk album keempatnya, menjauh dari pop mainstream demi mencari identitas baru.
- Setelah tur Miss Possessive, ia mengaku mengalami masa sulit secara mental, kesulitan tidur, dan merasa sangat kesepian.
- Proses kreatifnya kini terinspirasi dari buku lirik Dolly Parton dan playlist khusus, menunjukkan pergeseran arah musik yang lebih personal.

Penyanyi asal Kanada, Tate McRae, mengungkapkan bahwa ia tengah berada dalam fase eksperimental untuk album studio keempatnya. Dalam wawancara terbaru dengan Variety, pelantun "Greedy" ini mengaku sedang melempar berbagai ide untuk mencari arah musik yang tepat, sebuah proses yang ia gambarkan sebagai "melihat apa yang menempel". Lebih dari itu, ia juga berbagi pengalaman pahit tentang kelelahan mental yang dialaminya setelah menjalani tur dunia "Miss Possessive" pada tahun lalu.
Bagi penggemar di Indonesia yang mengikuti perjalanan karier McRae, kabar ini tentu menarik. Setelah kesuksesan album "So Close to What" pada 2025, banyak yang menantikan bagaimana ia akan mengembangkan musiknya. Namun, di balik sorotan panggung, McRae mengaku harus berjuang melawan perasaan gelap yang menghantuinya pasca tur. Ia menyebut bahwa dirinya merasa sangat terkuras dan kesepian, bahkan mengalami kesulitan tidur selama berbulan-bulan.
Dalam proses kreatifnya, McRae justru menjauh dari musik pop yang biasa ia bawakan. Ia mengaku terinspirasi oleh buku lirik Dolly Parton dan memiliki playlist khusus berjudul "Bubbly Bubbly Brain Refresh" yang berisi lagu-lagu Dolly. Menurutnya, mendengarkan musik pop mainstream justru membuatnya kehilangan inspirasi. Ini menandakan bahwa album barunya nanti mungkin akan memiliki warna yang berbeda dari karya-karyanya sebelumnya.
Kelelahan pasca tur yang dialami McRae bukanlah hal yang asing di industri musik. Banyak artis yang mengalami kondisi serupa, yang sering disebut sebagai "post-tour depression". Tekanan untuk tampil sempurna di setiap malam, jauh dari keluarga, dan terus-menerus berada di bawah sorotan publik dapat memicu gangguan mental. McRae sendiri mengaku membaca karya Sylvia Plath dan merasa sangat terhubung dengan kegelapan yang digambarkan dalam tulisan-tulisan penyair tersebut.
Ia menceritakan, "Aku ingat membaca Sylvia Plath dan berpikir, 'Aku adalah dia.'" Perasaan itu begitu kuat hingga ia merasa perlu untuk menarik diri dari dunia. "Aku benar-benar perlu kembali ke tubuhku dan mengatur sistem sarafku. Aku sangat lelah setelah tur. Aku tidak bisa tidur di malam hari," ungkapnya. Ia bahkan sempat berpikir untuk masuk ke ruangan gelap dan tidak bercermin selama enam bulan, karena merasa lelah melihat dirinya sendiri.
"Kamu bukan orang terburuk di dunia. Kamu bukan orang paling jelek di dunia. Kamu belum melakukan semuanya dengan salah. Dan, kamu hanya melakukan apa yang kamu cintai." โ Tate McRae, mengingatkan dirinya sendiri untuk bangkit dari keterpurukan.
Meski demikian, McRae berhasil melewati masa sulit tersebut dengan kesadaran diri yang kuat. Ia aktif menarik dirinya keluar dari pikiran negatif dan mengingatkan bahwa dirinya sedang melakukan hal yang ia cintai. Pengalaman ini, menurutnya, juga memengaruhi proses kreatifnya dalam membuat album baru. Ia ingin musiknya mencerminkan perjalanan emosional yang ia alami, bukan sekadar mengikuti tren pasar.
Bagi industri musik Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran penting tentang kesehatan mental para musisi. Dukungan dari label, manajemen, dan penggemar sangat krusial untuk memastikan artis tidak merasa sendirian dalam menghadapi tekanan. Apakah Tate McRae akan membawa pengalaman pribadinya ini ke dalam album barunya dengan lebih eksplisit? Atau justru ia akan memilih untuk menyajikan musik yang lebih ringan sebagai bentuk pelarian? Kita tunggu saja.



