DJ Wiz Meninggal Dunia: Legenda Turntablism Singapura Tutup Usia di 63 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Andrew Chow, ikon musik elektronik Singapura, mengembuskan napas terakhir pada 3 Agustus setelah berjuang melawan kanker lambung.
- Sepanjang kariernya, DJ Wiz meraih tiga gelar DMC Singapura dan menjadi pelopor hip-hop serta turntablism di Asia Tenggara.
- Rencana penganugerahan DMC Legacy Award pada September mendatang menjadi pengakuan atas dedikasinya yang mendunia.

Dunia musik elektronik Asia Tenggara berduka. Andrew Chow, atau yang lebih dikenal sebagai DJ Wiz, seorang pionir turntablism dan hip-hop Singapura, meninggal dunia pada 3 Agustus 2026 di usia 63 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh keluarganya, yang menyebut bahwa ia telah berjuang melawan kanker lambung selama beberapa tahun terakhir.
Chow bukan sekadar DJ biasa. Ia adalah arsitek budaya musik malam di Singapura, terutama melalui perannya sebagai resident DJ di klub legendaris Zouk, kawasan Jiak Kim Street, sejak pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Di sanalah ia mengasah kemampuan dan menjadi saksi evolusi musik dari era big beat hingga dominasi electronic dance music (EDM).
Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi rekan sejawat dan generasi penerus. DJ KoFlow, yang bernama asli Wayne Liu, menyebut Chow sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk membudayakan hip-hop melalui DJing dan turntablism di Singapura. "Warisan beliau hidup melalui kita semua," ujarnya. Liu juga mengungkapkan bahwa Chow dijadwalkan menerima DMC Legacy Award pada acara DMC Singapura, 6 September mendatang, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya yang tak ternilai.
Kavan Spruyt, pendiri klub Rasa dan tokoh nightlife Singapura, mengenang Chow sebagai pahlawan bagi banyak orang. "Saya dulu sering menonton aksinya di Phuture, klub di dalam Zouk, dan berdansa berjam-jam setiap Jumat malam. Di masa jayanya, ia tak terkalahkan," kenangnya. Senada, DJ Eddie Chan yang telah mengenal Chow selama empat dekade, menyebutnya sebagai guru sekaligus saudara. "Passion dan pengetahuannya luar biasa. Ia unggul di semua genre musik, dan kemampuan mixing serta scratching-nya sempurna," puji Chan.
Prestasi Chow di panggung internasional juga patut diacungi jempol. Ia memenangkan tiga edisi kompetisi DMC Singapura dan menjadi juara leg Technics World DJ Championships 1998. Penampilan publik terakhirnya adalah sebagai juri dan performer di acara DMC Warm-Up Battle di klub Kossa pada 24 Mei lalu.
Kabar duka ini juga menyentuh sisi personal. Putri sulungnya, Abby Chow, mengundang para sahabat dan penggemar untuk menghadiri prosesi pemakaman dengan pakaian warna-warni dan bergaya, bukan busana duka yang kaku. "Daddy adalah pria keren, jadi tidak ada aturan berpakaian ketat. Kami merayakan hidupnya, gayanya, dan pesonanya," tulis Abby di media sosial. Ia juga mengucapkan terima kasih atas segala doa dan penghormatan yang mengalir untuk sang ayah.
Bagi Indonesia, kepergian DJ Wiz menjadi pengingat akan pentingnya menghargai para pionir industri musik. Meski Singapura dan Indonesia memiliki ekosistem yang berbeda, perjuangan Chow dalam mengangkat budaya hip-hop dan turntablism memberikan inspirasi bagi para DJ Tanah Air yang kerap berjuang mendapatkan pengakuan. Fenomena serupa terjadi di Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain, di mana komunitas DJ lokal mulai mendapatkan tempat di industri hiburan.
Pertanyaannya, siapa yang akan meneruskan tongkat estafet yang ditinggalkan Chow? Apakah generasi baru DJ Indonesia dan Asia Tenggara mampu mengukir prestasi serupa di kancah global? Warisan Chow, yang diakui secara internasional, menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi mereka yang berkecimpung di dunia musik elektronik.



