Petinju 21 Tahun Moses Itauma Siap Guncang Kelas Berat: Perebutkan Sabuk IBF di London
Baca dalam 60 detik
- Laga Moses Itauma vs Filip Hrgovic pada 29 Agustus resmi memperebutkan sabuk IBF kelas berat yang kosong.
- Kemenangan akan menjadikan Itauma juara dunia kelas berat termuda sejak Mike Tyson, sekaligus membuka jalan menuju laga unifikasi.
- Promotor Frank Warren yakin Itauma mampu mengalahkan Hrgovic, dengan Frank Sanchez yang siap menantang pemenang.

Laga tinju kelas berat antara petinju muda Inggris, Moses Itauma, melawan Filip Hrgovic pada 29 Agustus mendatang di O2 Arena London resmi memperebutkan sabuk juara dunia IBF yang kosong. Kepastian ini diumumkan promotor Frank Warren, yang juga mengonfirmasi bahwa gelar tersebut sebelumnya dipegang Oleksandr Usyk sebelum dikosongkan pada Juni lalu.
Itauma, yang baru berusia 21 tahun, telah lama disebut sebagai bintang masa depan tinju kelas berat. Dari 14 kemenangan profesionalnya, 12 di antaranya diraih melalui knockout. Rekor impresif ini membuatnya dijagokan banyak pihak, termasuk Warren yang telah membina kariernya sejak usia 16 tahun. "Kami menandatanganinya saat ia masih amatir, dan ia telah menunjukkan performa luar biasa," ujar Warren kepada BBC Sport.
Laga ini bukan sekadar perebutan gelar biasa. Jika berhasil mengalahkan Hrgovic, Itauma akan menjadi juara dunia kelas berat termuda sejak Mike Tyson. Ia akan berusia 21 tahun 244 hari saat pertarungan berlangsung, hanya terpaut beberapa hari lebih tua dari rekor Prince Naseem Hamed yang merebut gelar pada usia 21 tahun 218 hari pada 1995. Ini menjadi pencapaian langka yang menempatkan namanya sejajar dengan legenda tinju Inggris.
Jalan menuju gelar ini tidak mudah. Awalnya, Itauma diperintahkan untuk bernegosiasi dengan petinju Kuba, Frank Sanchez, yang juga mengincar sabuk kosong tersebut. Namun, Sanchez sepakat untuk mundur setelah menerima kompensasi finansial dari pihak Itauma. Sebagai gantinya, Sanchez akan menghadapi pemenang laga Itauma vs Hrgovic. "Kami membayar Sanchez agar tidak kehilangan kesempatan. Siapa pun yang menang, ia akan mendapatkan kesempatan bertarung memperebutkan gelar," jelas Warren.
Hrgovic, peraih medali perunggu Olimpiade 2016, bukan lawan sembarangan. Petinju Kroasia berusia 34 tahun itu telah memenangi 20 pertarungan profesional, termasuk kemenangan atas petinju Inggris Dave Allen pada Mei lalu. Warren mengakui kekuatan Hrgovic, "Kami tahu Hrgovic akan memberikan 100% usahanya, dan itu akan menjadi pekerjaan berat bagi siapa pun." Namun, ia tetap percaya diri dengan kemampuan anak asuhnya.
Kemenangan Itauma tidak hanya akan mengukuhkan namanya di panggung dunia, tetapi juga membuka peluang laga unifikasi yang sangat dinantikan. Daniel Dubois, juara WBO, dijadwalkan menjalani rematch melawan Fabio Wardley pada Oktober. Jika Itauma mampu melewati Hrgovic dan kemudian Sanchez, ia berpotensi menghadapi pemenang laga tersebut untuk memperebutkan dua sabuk dunia. Warren membayangkan laga itu bisa digelar di Stadion Wembley pada 2027. "Itu akan menjadi laga besar, sangat besar. Mereka semua petinju dengan pukulan keras dan gaya bertarung yang menarik," ujarnya.
Namun, ada satu dilema yang menarik: Wardley dan Itauma sama-sama dilatih oleh Ben Davison. Jika keduanya harus bertemu di atas ring, Davison dihadapkan pada pilihan sulit. Warren menanggapinya dengan santai, "Saya pernah melihat sahabat bertarung satu sama lain, dan mereka melakukannya demi uang yang bisa menghidupi keluarga." Situasi ini menambah dimensi emosional pada potensi laga unifikasi tersebut.
Bagi penggemar tinju Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak. Meski tidak ada petinju Indonesia yang terlibat langsung, laga ini menegaskan bahwa kelas berat masih menjadi primadona tinju dunia. Gaya bertarung agresif Itauma yang mengandalkan kekuatan pukulan bisa menjadi tontonan yang menghibur. Selain itu, kesuksesan petinju muda seperti Itauma bisa menjadi inspirasi bagi atlet Indonesia untuk berani menembus level internasional, mengingat potensi besar yang dimiliki petinju Tanah Air seperti petinju profesional asal Papua yang mulai mencuri perhatian.
Dengan laga yang semakin dekat, publik tinju dunia menantikan apakah Itauma mampu memenuhi ekspektasi besar yang dibebankan padanya. Bisakah ia mengulang jejak Mike Tyson yang merebut gelar di usia muda? Atau justru Hrgovic yang akan menjadi kuda hitam dan menggagalkan ambisi besar itu? Pertarungan 29 Agustus akan menjadi jawabannya.



