Gelombang Penolakan Meluas: Serbia, Swedia, dan Wales Tarik Dukungan untuk Infantino
Baca dalam 60 detik
- Tiga federasi sepak bola Eropa secara resmi mencabut dukungan mereka terhadap Gianni Infantino untuk periode kepemimpinan FIFA 2027-2031.
- Keputusan ini dipicu oleh rencana kontroversial FIFA yang gagal menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta, yang menuai kritik tajam dari berbagai pihak.
- Langkah ini menambah tekanan besar pada Infantino menjelang kongres FIFA di Maroko, dan berpotensi memicu krisis kepemimpinan di tubuh organisasi sepak bola dunia.

Gelombang penolakan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino semakin deras. Federasi sepak bola Serbia, Swedia, dan Wales secara beruntun mengumumkan penarikan dukungan mereka terhadap presiden FIFA untuk periode 2027-2031, menyusul kegagalan rencana kontroversial yang melibatkan investasi swasta di Piala Dunia. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa kekuasaan Infantino di puncak organisasi sepak bola dunia mulai goyah.
Keputusan tersebut diumumkan pada Senin (3/8) dan langsung mengguncang panggung politik sepak bola global. Federasi Serbia, yang sebelumnya memberikan dukungan tertulis pada 25 Mei lalu, menyatakan bahwa mereka menarik dukungan setelah mengevaluasi serangkaian peristiwa yang dinilai telah merusak citra FIFA dan presidennya. Sementara itu, Federasi Swedia menyebut adanya kekurangan berulang dalam tata kelola, transparansi, dan manajemen yang membuat kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino tidak lagi ada. Federasi Wales bahkan menjadi yang pertama secara formal menarik dukungan, dengan pernyataan tegas bahwa Infantino telah kehilangan kepercayaan mereka.
Kemelut ini bermula dari rencana FIFA untuk menjual sekitar 20 persen saham dalam entitas baru yang mengelola kompetisi termasuk Piala Dunia, dengan target pendanaan hingga US$4,2 miliar dari investor swasta. Proposal yang diumumkan pada Jumat lalu ini langsung menuai perlawanan sengit dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk UEFA dan CONCACAF, yang akhirnya memaksa FIFA untuk mundur. Kegagalan ini menjadi pemicu utama meluasnya ketidakpercayaan terhadap Infantino, yang sebelumnya dianggap akan melenggang mulus menuju periode keempat.
Tekanan terhadap Infantino semakin nyata ketika UEFA dan CONCACAF secara terpisah menyatakan kehilangan kepercayaan pada kepemimpinannya. UEFA, yang memimpin perlawanan terhadap rencana tersebut, bahkan telah mengirimkan perintah pelestarian dokumen (document preservation order) yang mengindikasikan potensi investigasi lebih lanjut. Langkah ini memicu spekulasi bahwa UEFA sedang mempersiapkan tindakan hukum terhadap FIFA, meskipun belum ada konfirmasi resmi.
Di tengah krisis ini, laporan dari New York Post menyebutkan bahwa Infantino telah mencoba menghubungi Presiden AS Donald Trump untuk mencari dukungan, namun upayanya gagal. Infantino dilaporkan merasa terisolasi oleh liputan media yang negatif. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) juga dikabarkan akan segera menarik dukungannya, menyusul langkah tiga federasi lainnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia tentu berharap FIFA dipimpin oleh figur yang kredibel dan transparan. Kegagalan tata kelola di tingkat global dapat berdampak pada berbagai program pengembangan sepak bola di tanah air, termasuk potensi pendanaan dan regulasi yang harus dipatuhi PSSI. Publik Indonesia pun menanti apakah PSSI akan mengambil sikap serupa dengan federasi Eropa, atau tetap bertahan di belakang Infantino.
Para pengamat menilai bahwa krisis ini membuka babak baru dalam politik sepak bola internasional. Infantino, yang telah memimpin FIFA sejak 2016 dan dua kali terpilih tanpa lawan, kini menghadapi tantangan terbesarnya. Kegagalan proposal investasi tersebut tidak hanya memicu krisis kepercayaan, tetapi juga menyoroti keretakan yang selama ini tersembunyi di antara anggota FIFA. Pertanyaannya kini, mampukah Infantino bertahan menghadapi badai ini, atau justru akan menjadi awal dari perubahan besar dalam kepemimpinan organisasi sepak bola dunia?



