Modest Mouse Depak Gitaris Simon O’Connor dari Tur Usai Dituding Kirim Pesan Tak Senonoh ke Penggemar di Bawah Umur
Baca dalam 60 detik
- Gitaris Modest Mouse, Simon O’Connor, dicoret dari tur mendatang setelah seorang penggemar berusia 17 tahun mengunggah bukti percakapan Instagram yang tidak pantas.
- Manajemen band hanya mengumumkan pengganti, Seth Jabour dari Les Savy Fav, tanpa memberikan alasan resmi, sementara O’Connor membantah tuduhan dengan mengaku salah identifikasi akun.
- Kasus ini memicu diskusi tentang perlindungan anak di ruang digital dan bagaimana industri musik merespons tuduhan perilaku tak etis di era media sosial.

Gitaris band indie rock asal Amerika Serikat, Modest Mouse, secara mendadak mencoret Simon O’Connor dari daftar personel tur yang dijadwalkan mulai 4 Agustus di Ojai, California. Keputusan ini diumumkan melalui akun Instagram resmi band pada 31 Juli, hanya berselang beberapa hari setelah seorang remaja perempuan mengklaim menerima pesan tidak senonoh dari O’Connor melalui Instagram. Langkah cepat ini dinilai sebagai upaya band untuk menjaga citra di tengah gelombang tuntutan akuntabilitas di industri musik.
Dalam unggahan singkat bertajuk “Upcoming tour update”, manajemen Modest Mouse hanya menyatakan bahwa O’Connor tidak akan mendampingi mereka dalam tur, tanpa merinci alasan. Sebagai pengganti, posisi gitaris akan diisi oleh Seth Jabour dari Les Savy Fav. Keheningan pihak band soal alasan pemecatan justru memicu spekulasi, terutama karena pengumuman tersebut muncul tak lama setelah tuduhan dari penggemar berusia 17 tahun yang ramai diperbincangkan di platform Reddit.
Tuduhan berawal dari unggahan seorang pengguna Reddit pada 26 Juli yang mengaku sebagai penggemar Modest Mouse. Ia menceritakan bahwa O’Connor menghubunginya setelah ia menyukai sejumlah Instagram Story milik gitaris tersebut. Dalam percakapan yang ia bagikan, O’Connor disebut mengirimkan gambar erotis dan komentar tentang foto bikini korban, meskipun usia korban tertera jelas di profilnya. Pesan-pesan itu kemudian dihapus oleh O’Connor dalam hitungan menit, tetapi korban telah mengabadikannya dalam tangkapan layar.
Menanggapi tuduhan tersebut, O’Connor langsung memberikan klarifikasi melalui subreddit band pada keesokan harinya. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa dirinya sangat menentang perilaku seksual terhadap anak di bawah umur, baik sebagai manusia maupun sebagai orang tua. Ia mengaku bahwa ia salah mengira akun korban sebagai akun palsu yang kerap dibuat oleh seseorang untuk mengganggunya selama bertahun-tahun. O’Connor menjelaskan bahwa ia merespons dengan “meme tidak sopan” dan stiker bertuliskan “Simon calls your bluff” yang dimaksudkan sebagai lelucon, sebelum menyadari kesalahannya dan segera menghapus pesan tersebut.
“Setelah beberapa menit, saya menyadari bahwa saya telah membuat kesalahan dan ini bukan orang yang pernah saya hadapi sebelumnya,” tulis O’Connor. Ia juga menyampaikan permintaan maaf langsung kepada korban, dengan mengatakan bahwa mereka tidak pantas ditempatkan dalam posisi tersebut. “Saya tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengatakan yang sebenarnya, bertanggung jawab atas kesalahan saya, dan meminta maaf,” pungkasnya.
Meski O’Connor telah memberikan pembelaan, Modest Mouse belum memberikan komentar tambahan mengenai apakah pemecatan ini bersifat permanen. Keputusan band untuk bertindak cepat tanpa pernyataan resmi yang mendalam menunjukkan bahwa isu perlindungan anak di industri musik kini menjadi sensitif dan berisiko tinggi. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa interaksi antara selebritas dan penggemar di media sosial memiliki batas etika yang tidak boleh dilanggar, terlepas dari niat awal.
Di Indonesia, kasus ini relevan dengan maraknya fenomena penggemar yang berinteraksi langsung dengan idola melalui platform digital. Meskipun belum ada regulasi spesifik yang mengatur interaksi tersebut, Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dapat menjadi payung hukum bagi korban pelecehan online. Publik Indonesia pun semakin kritis terhadap perilaku publik figur, dan tuntutan untuk transparansi serta akuntabilitas semakin menguat, sejalan dengan gerakan serupa di tingkat global.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah langkah Modest Mouse akan menjadi preseden bagi band lain dalam menangani tuduhan serupa. Akankah industri musik mulai menerapkan kode etik yang lebih ketat untuk interaksi daring antara artis dan penggemar? Atau justru kasus ini akan meredup begitu tur berjalan? Yang jelas, kasus ini menegaskan bahwa media sosial adalah ruang publik yang membutuhkan kehati-hatian, terutama bagi mereka yang memiliki pengaruh besar.



