Pesta Olahraga Persemakmuran 2030 di India: Ujian Kredibilitas Menuju Olimpiade 2036
Baca dalam 60 detik
- Glasgow sukses menggelar edisi 2026 dengan biaya sepertiga dari 2014, membuktikan format ramping bisa berkelanjutan.
- India siap menjadi tuan rumah edisi 2030 di Ahmedabad, sekaligus menjadi batu loncatan menuju Olimpiade 2036.
- Kehadiran atlet papan atas yang minim menjadi catatan, namun inovasi integrasi para-atlet menjadi warisan positif.

Glasgow menutup perhelatan Commonwealth Games ke-23 dengan seremoni penutupan yang spektakuler, sekaligus mengalihkan sorotan dunia kepada India sebagai tuan rumah berikutnya pada 2030. Bagi India, ajang ini bukan sekadar pesta olahraga, melainkan panggung pembuktian untuk mewujudkan ambisi besarnya menjadi tuan rumah Olimpiade 2036.
Edisi Glasgow tahun ini menjadi uji coba format baru yang jauh lebih ramping. Hanya 10 cabang olahraga yang dipertandingkan, bandingkan dengan 17 hingga 20 cabang pada enam edisi sebelumnya. Dana penyelenggaraan ditopang oleh kompensasi yang dibayarkan oleh negara bagian Victoria, Australia, yang mundur sebagai tuan rumah pada 2023, serta suntikan dana dari Commonwealth Games Federation (CGF). Hasilnya, Glasgow mampu menyelenggarakan 11 hari kompetisi bagi 3.000 atlet dan 434.000 penonton di venue yang sudah ada, dengan biaya hanya sekitar sepertiga dari pengeluaran saat kota yang sama menjadi tuan rumah pada 2014.
Keberhasilan ini memicu optimisme baru di tengah krisis relevansi yang melanda Commonwealth Games. Dua edisi sebelumnya harus kehilangan tuan rumah karena mundur di tengah jalan, dan Durban dicabut haknya untuk menjadi tuan rumah 2022. Kini, Ahmedabad, kota di Gujarat, India, siap mengambil alih estafet pada 2030, yang juga merupakan perayaan seratus tahun ajang ini. Katie Sadleir, CEO Commonwealth Sport, menjanjikan 15 hingga 17 cabang olahraga dalam perhelatan yang disebutnya "menarik dan dinamis". Sementara itu, Wakil Kepala Menteri Gujarat, Harsh Sanghavi, menegaskan bahwa menjadi tuan rumah adalah "tonggak penting" bagi India.
"India berkomitmen untuk menjadikan dirinya sebagai ibu kota olahraga global," ujar Sanghavi dalam konferensi pers di Glasgow, Minggu (3/8). "Kami bercita-cita menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade 2036, dan Commonwealth Games adalah kesempatan untuk menunjukkan kesiapan India dalam menyelenggarakan acara olahraga kelas dunia."
Namun, di balik kemeriahan, ada catatan serius. Sejumlah atlet papan atas memilih absen, seperti Julien Alfred, Keely Hodgkinson, dan Summer McIntosh. Hal ini menegaskan bahwa Commonwealth Games bukan lagi prioritas utama bagi para elit olahraga dunia. Meski begitu, ajang ini tetap menjadi tempat pembuktian bagi atlet muda, dan inovasi seperti integrasi penuh cabang para-olahraga dalam jadwal resmi patut diapresiasi.
Phil Batty, CEO Glasgow 2026, menekankan bahwa model baru ini membuktikan bahwa tidak semua Commonwealth Games harus seragam. "Kami telah menciptakan keyakinan di antara 74 negara bahwa setiap negara bisa dan harus menjadi tuan rumah," ujarnya. "Games harus terlihat dan terasa berbeda, merayakan identitas, karakter, infrastruktur, dan komunitas negara tuan rumah."
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Keberhasilan Glasgow dalam menekan biaya dan tetap menghadirkan kompetisi berkualitas bisa menjadi inspirasi bagi penyelenggaraan event olahraga besar di dalam negeri, seperti PON atau even internasional lainnya. Selain itu, ambisi India untuk naik kelas menjadi tuan rumah Olimpiade bisa menjadi pemicu persaingan sehat di kawasan Asia, sekaligus membuka peluang kerja sama olahraga yang lebih erat dengan Indonesia.
Pertanyaan besarnya, akankah India mampu memenuhi janji kemegahan tanpa mengorbankan keberlanjutan? Atau justru model ramping ala Glasgow akan menjadi standar baru yang diadopsi oleh tuan rumah-tuan rumah berikutnya? Jawabannya akan menentukan masa depan Commonwealth Games sebagai ajang yang relevan di tengah padatnya kalender olahraga global.



