Tudor Satu Abad, Nautilus Setengah Abad: 2026 Jadi Tahun Emas Horologi Dunia
Baca dalam 60 detik
- Tahun 2026 menjadi saksi perayaan besar industri arloji, mulai dari Tudor yang genap 100 tahun hingga Patek Philippe Nautilus yang memasuki usia 50 tahun.
- Berbagai model edisi terbatas dan inovasi teknis diluncurkan untuk memperingati momen bersejarah ini, menegaskan kembali pengaruh desain klasik terhadap tren modern.
- Kolektor Indonesia perlu mencermati peluang langka ini, karena edisi terbatas seperti Nautilus Ref. 5810/1G-001 dan Super Freak Ulysse Nardin diprediksi menjadi incaran utama pasar sekunder.

Industri arloji mewah global tengah memasuki semester kedua 2026 dengan nuansa reflektif. Kepergian Philippe Stern, mantan presiden legendaris Patek Philippe, pada 14 Juni lalu menjadi pengingat bahwa kehebatan horologi tidak hanya diukur dari produk, melainkan juga dari visi dan keberanian para penggeraknya. Momentum ini bertepatan dengan rentetan perayaan ulang tahun besar sejumlah maison ternama, dari Tudor yang genap satu abad hingga Nautilus yang setengah abad—sebuah periode yang oleh para pengamat disebut sebagai tahun emas industri arloji.
Perayaan tahun ini bukan sekadar seremoni. Di balik setiap angka ulang tahun tersimpan kisah tentang bagaimana sebuah konsep berani bertransformasi menjadi identitas abadi. Tudor, misalnya, didirikan Hans Wilsdorf pada 1926 dengan misi menghadirkan kualitas ala Rolex pada harga lebih terjangkau. Namun, selama puluhan tahun merek ini hidup dalam bayang-bayang kakaknya. Baru pada dekade 2010-an Tudor menemukan jati diri lewat koleksi Black Bay, Pelagos, dan Ranger yang mengusung desain vintage dan gerakan manufaktur modern. Kini, di usianya yang ke-100, Tudor meluncurkan Monarch sebagai pusat perhatian, menegaskan bahwa merek ini telah mandiri sepenuhnya.
Di sisi lain, Patek Philippe memilih pendekatan berbeda untuk merayakan Nautilus yang lahir pada 1976. Kala itu, desain Gerald Genta yang terinspirasi jendela kapal dan terbuat dari baja antikarat dianggap berani, bahkan harganya disebut melampaui arloji emas. Setengah abad kemudian, Nautilus menjadi ikon yang sangat diburu. Untuk edisi ulang tahunnya, Patek justru tampil minimalis: tiga arloji dan satu jam meja edisi terbatas tanpa jarum detik dan tanggal. Salah satunya, Ref. 5810/1G-001 berbahan emas putih 41mm, hanya dibuat 2.000 unit—angka yang tentu membuat para kolektor berebut.
Semangat serupa juga mewarnai perayaan maison lain. Rado memperingati 40 tahun Integral, arloji pertama yang diproduksi massal dengan keramik teknologi tinggi. Parmigiani Fleurier, yang baru berusia 30 tahun, meluncurkan Carillon Tourbillon dengan lima unit saja. Sementara Vacheron Constantin merayakan Overseas lewat empat varian Dual Time "Cardinal Points" berbahan titanium, dan Jaeger-LeCoultre mengenang 20 tahun AMVOX2 yang inovatif—arloji dengan sistem pemicu vertikal yang memungkinkan pengguna mengoperasikan kronograf dengan menekan kaca safir.
Bagi penggemar arloji di Indonesia, momen ini adalah kesempatan langka. Edisi terbatas seperti Nautilus Ref. 5610/1P-001 berbahan platinum atau Super Freak dari Ulysse Nardin yang hanya 50 unit diprediksi akan menjadi primadona di pasar sekunder, mengingat tingginya minat kolektor Asia Tenggara terhadap arloji ikonik. Namun, perlu diingat bahwa harga edisi spesial ini biasanya jauh di atas harga normal, dan persaingan untuk mendapatkannya sangat ketat.
Pertanyaannya, apakah perayaan ulang tahun ini akan mampu mempertahankan gairah pasar arloji mewah di tengah perlambatan ekonomi global? Sejarah menunjukkan bahwa edisi ulang tahun selalu menjadi magnet bagi kolektor, tetapi daya tahannya bergantung pada inovasi yang ditawarkan. Tahun 2026 membuktikan bahwa industri ini tidak pernah kehabisan cara untuk merayakan warisan sambil terus bergerak maju.



