Rumah Mewah Chow Yun Fat di Hong Kong Kembali Turun Harga, dari Rp1,1 Triliun ke Rp800 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Aktor legendaris Hong Kong, Chow Yun Fat, kembali memangkas harga rumah mewahnya di kawasan The Peak menjadi HK$160 juta (sekitar Rp800 miliar), turun 27% dari harga awal empat tahun lalu.
- Properti yang dibeli pada 2010 seharga HK$128 juta ini belum juga laku meski telah direnovasi dan memiliki fasilitas premium seperti taman pribadi dan atap dengan pemandangan panorama.
- Penurunan harga ini mencerminkan tren pasar properti mewah Hong Kong yang sedang lesu, sekaligus menjadi sinyal bagi investor Indonesia yang melirik aset serupa di kota tersebut.

Bintang film Hong Kong, Chow Yun Fat, kembali memangkas harga rumah mewahnya di kawasan The Peak, Hong Kong. Properti yang semula ditawarkan dengan banderol HK$220 juta (sekitar Rp1,1 triliun) pada 2022, kini turun menjadi HK$160 juta (sekitar Rp800 miliar). Penurunan ini terjadi setelah rumah tersebut gagal menarik pembeli selama dua tahun terakhir.
Rumah detached house yang dibeli Chow pada 2010 seharga HK$128 juta (sekitar Rp640 miliar) ini merupakan salah satu dari delapan properti yang dimiliki aktor berusia 70 tahun tersebut. Total nilai portofolio propertinya diperkirakan melampaui HK$1 miliar (sekitar Rp5 triliun), menjadikannya salah satu kolektor properti terkaya di Hong Kong.
Penurunan harga terbaru ini berarti properti tersebut kini dijual HK$60 juta (sekitar Rp300 miliar) lebih murah dibandingkan harga awalnya empat tahun lalu. Meski demikian, rumah yang telah direnovasi ini belum pernah dihuni atau disewakan, dan menawarkan taman pribadi, atap, serta pemandangan panorama yang luas. Namun, sesi kunjungan masih terbatas hingga saat ini.
Meskipun properti ini belum laku, Chow tetap menuai keuntungan dari investasi lainnya. Pada April lalu, ia dilaporkan menjual apartemen tiga kamar di Hong Kong seharga HK$7,5 juta (sekitar Rp37 miliar), memperoleh laba HK$3,5 juta (sekitar Rp17 miliar) setelah memilikinya selama 31 tahun. Ini menunjukkan bahwa tidak semua asetnya mengalami nasib serupa.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi cermin dinamika pasar properti mewah di Hong Kong. Melemahnya permintaan, terutama dari pembeli asing, telah mendorong penurunan harga yang signifikan. Analis properti menilai bahwa penurunan ini bisa menjadi peluang bagi pembeli yang mencari aset premium dengan harga lebih terjangkau, namun tetap memerlukan kehati-hatian mengingat kondisi ekonomi yang belum stabil.
Chow sendiri dikenal sebagai sosok yang rendah hati meski bergelimang harta. Ia kerap terlihat menggunakan transportasi umum, berbelanja di pasar tradisional, dan makan di restoran lokal Hong Kong. Gaya hidup sederhananya ini kontras dengan nilai properti yang dimilikinya, namun justru membuatnya semakin dicintai publik.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah penurunan harga ini akan cukup untuk menarik pembeli, atau justru menandakan tren penurunan yang lebih dalam di pasar properti mewah Hong Kong. Dengan kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, keputusan Chow untuk terus menurunkan harga bisa menjadi indikator bagi investor lain untuk menilai arah pasar.



