Gelombang Migran di Ceuta Picu Retakan Toleransi: 72 Tewas, Debat Imigrasi Eropa Memanas
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 60.000 migran membanjiri Ceuta pekan ini, menyebabkan 72 kematian dan memicu krisis kemanusiaan.
- Kedatangan politisi sayap kanan memicu ketegangan di kota yang selama ini dikenal toleran terhadap empat budaya.
- Insiden ini memperkuat tekanan pada kebijakan imigrasi Uni Eropa dan memunculkan pertanyaan tentang solidaritas regional.

Enklave Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, perlahan kembali normal setelah akhir pekan yang mencekam, namun luka akibat gelombang kedatangan puluhan ribu migran masih membekas. Setidaknya 72 orang tewas, termasuk yang tenggelam dan terinjak-injak saat menerobos penghalang pemecah gelombang, sementara sebagian besar dari sekitar 60.000 pendatang yang membanjiri kota pada Kamis dan Jumat telah kembali ke Maroko.
Peristiwa ini bukan sekadar krisis kemanusiaan, melainkan juga pemicu perdebatan sengit tentang imigrasi di Eropa. Kota yang hanya berpenduduk 84.000 jiwa itu sempat membengkak lebih dari setengahnya dalam hitungan jam. Para migran, yang didominasi pria muda, berenang, memanjat, dan menyerbu masuk, membanjiri pantai perkotaan dan jalan-jalan sempit. Kini, kapal-kapal Garda Sipil masih menyisir perairan untuk mencari korban yang hilang, sementara toko-toko mulai buka kembali dan kafe-kafe kembali dipenuhi pengunjung.
Namun, di balik ketenangan semu, warga Ceuta terbelah. Sebagian menyalahkan otoritas yang dianggap membiarkan perbatasan terbuka, sebagian lain menuding para migran sebagai biang masalah. Mohamad Abdelkader Driss, seorang pelayan restoran ikan goreng, menegaskan bahwa para pemuda itu bukanlah pihak yang bersalah. "Jika perbatasan dibuka, tentu semua orang akan masuk. Para pemuda tidak bisa disalahkan; yang bertanggung jawab adalah otoritas," ujarnya. Ia bersyukur insiden itu tidak berujung lebih buruk, meski mengakui para pendatang berperilaku relatif tertib.
Kedatangan para politisi dan influencer sayap kanan justru memanaskan suasana. Alvise Pérez, anggota Parlemen Eropa dari kubu ekstrem kanan, menyerukan pengusiran migran saat berhadapan dengan massa penentang yang marah, hingga ia harus berlindung di sebuah bar. Santiago Abascal, pemimpin partai Vox, menyebut gelombang migrasi ini sebagai "invasi" dan mengecam pemerintah Spanyol yang dianggapnya gagal melindungi perbatasan. "Perbatasan Ceuta dan Melilla adalah dinding rumah dan tanah air kita, dan mereka tidak dilindungi oleh pemerintah yang korup dan pengkhianat," ujarnya.
Di sisi lain, warga seperti Noor Ahmed, mahasiswa berusia 20 tahun, mengecam kehadiran tokoh-tokoh tersebut sebagai tindakan oportunis. "Mereka hanya ingin memanfaatkan krisis kemanusiaan yang sedang dialami Ceuta," katanya. Ketegangan ini menguji reputasi Ceuta sebagai kota dengan empat budaya—Kristen, Muslim, Yahudi, dan Hindu—yang selama ini hidup berdampingan. Eva Barrientos, pekerja logistik, mengaku khawatir ada "musuh dari dalam" di antara warga berdarah asing yang dianggap lebih loyal kepada Maroko. "Kami selalu hidup bersama, empat budaya tanpa masalah. Tapi sekarang kami menyadari ada musuh di dalam," tuturnya.
Paus Leo XIV, yang dikenal getol menyuarakan isu migrasi, menyatakan mengikuti situasi di Ceuta dengan prihatin dan meminta solusi yang membawa perdamaian dan keadilan. Kunjungannya ke Kepulauan Canary baru-baru ini menegaskan prioritasnya pada isu ini. Sementara itu, bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin betapa rapuhnya harmoni sosial ketika krisis datang. Negara kepulauan dengan keberagaman etnis dan agama yang tinggi perlu belajar dari Ceuta: toleransi yang tidak dijaga bisa runtuh oleh sentimen politik dan tekanan ekonomi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana Spanyol dan Uni Eropa menangani arus migrasi, tetapi juga apakah kota-kota multikultural lain mampu bertahan dari ujian serupa. Ceuta mungkin kembali tenang, tetapi retakan yang muncul belum tentu mudah disembuhkan. Apakah Eropa akan memperketat perbatasan atau justru mencari solusi kemanusiaan yang lebih adil? Jawabannya akan menentukan wajah benua ini dalam dekade mendatang.



