Gelombang Panas Ekstrem Landa Korea Selatan: Suhu 42,5°C Cetak Rekor Terpanas dalam Seabad
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pada 2 Agustus, mencapai 42,5°C di Yangsan, memicu peringatan darurat nasional.
- Fenomena El Nino dan perubahan iklim disebut sebagai pemicu utama, dengan jumlah hari panas ekstrem meningkat dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.
- Dampak nyata terasa di berbagai sektor, termasuk pembatalan pertandingan bisbol profesional, sementara negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perlu mewaspadai tren serupa.

Korea Selatan mencatat rekor suhu terpanas sepanjang sejarah pada Minggu (2/8), ketika kota Yangsan di tenggara negara itu menyentuh 42,5 derajat Celsius. Badan Meteorologi Korea (KMA) mengonfirmasi angka tersebut sebagai yang tertinggi sejak pencatatan dimulai lebih dari satu abad lalu, sekaligus memicu peringatan darurat bagi warga untuk menghentikan seluruh aktivitas di luar ruangan.
Gelombang panas yang melanda Semenanjung Korea ini bukan sekadar anomali harian. Kota Yangsan telah mengalami suhu di atas 40 derajat selama lima hari berturut-turut, sementara kota-kota besar seperti Daegu dan Busan juga mencatat suhu di kisaran 30 derajat tinggi. Kondisi ini memaksa warga berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan dan kafe ber-AC untuk berlindung. Ju Dong-yeol, seorang pekerja kantoran berusia 27 tahun, mengaku bersama orang tuanya memilih bertahan di Starbucks Seoul karena tak tahan dengan panasnya udara.
Pemerintah Korea Selatan telah mengaktifkan kategori peringatan baru yang diberlakukan tahun ini, yakni 'emergency heatwave alert', yang dikeluarkan ketika suhu aktual diprediksi mencapai 39 derajat atau suhu terasa 38 derajat. Lebih dari 20 wilayah masuk dalam status ini pada Minggu. KMA mengimbau warga untuk segera pindah ke tempat sejuk, seperti pusat pendingin yang telah disiapkan, dan memperbanyak minum air. Bahkan, peringatan tersebut menegaskan bahwa ruangan tanpa AC kini dianggap berbahaya.
Data KMA menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: rata-rata jumlah hari panas ekstrem (dengan suhu maksimal minimal 33 derajat) meningkat dari 8 hari pada 1970-an menjadi 19 hari dalam lima tahun terakhir. Para ilmuwan mengaitkan fenomena ini dengan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia, diperparah dengan kembalinya El Nino tahun ini—fenomena alam yang menghangatkan permukaan laut Pasifik dan biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun.
Dampak nyata sudah terasa di berbagai sektor. Liga bisbol profesional Korea (KBO) membatalkan pertandingan di Changwon untuk kedua kalinya secara beruntun setelah suhu kota itu menembus 39,5 derajat. Dalam pernyataannya, KBO menegaskan bahwa keputusan ini diambil demi keselamatan penonton dan pemain, mengingat peringatan panas ekstrem masih berlaku. Ini menjadi contoh bagaimana cuaca ekstrem mulai mengganggu aktivitas ekonomi dan hiburan publik.
Fenomena serupa juga melanda Eropa selatan, dengan gelombang panas yang mendorong suhu di atas 40 derajat di sejumlah wilayah. Italia bahkan bersiap menempatkan hampir seluruh kota besarnya dalam status waspada tertinggi mulai Senin. Para ahli memperingatkan bahwa kejadian seperti ini akan semakin sering dan intensif jika emisi karbon global tidak segera ditekan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi alarm tersendiri. Meski secara geografis berbeda, tren pemanasan global yang sama berpotensi memicu gelombang panas lebih sering di kawasan Asia Tenggara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mencatat suhu ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia, meski belum separah Korea Selatan. Namun, dengan meningkatnya frekuensi El Nino dan perubahan iklim, bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi tantangan serupa dalam beberapa dekade mendatang.
Pertanyaannya kini, apakah negara-negara tropis seperti Indonesia sudah memiliki infrastruktur dan sistem peringatan dini yang memadai untuk menghadapi skenario terburuk? Atau akankah kita terus menunggu hingga rekor suhu lokal pecah, seperti yang baru saja dialami Korea Selatan?



