Rekor Baru Via Alpina: Pelari Selandia Baru Taklukkan 2.000 Km Alpen dalam 29 Hari
Baca dalam 60 detik
- Sophie Woods memecahkan rekor Via Alpina dengan waktu 29 hari, memangkas enam hari dari catatan sebelumnya.
- Perjalanan ekstrem ini menempuh jarak 2.000 km dengan total tanjakan setara 12 kali Everest, di tengah gelombang panas dan kebakaran hutan Eropa.
- Prestasi Woods menegaskan dominasi perempuan di ultra-running dan menginspirasi atlet Indonesia untuk menembus batas fisik dan mental.

Pelari ultra asal Selandia Baru, Sophie Woods, mencatatkan sejarah baru dengan menaklukkan Via Alpina, jalur lintas Pegunungan Alpen sepanjang 2.000 kilometer yang membentang delapan negara, hanya dalam 29 hari. Rekor ini memecahkan catatan terbaik sebelumnya yang dipegang pelari Inggris Jake Catterall dengan 35 hari pada 2024. Pencapaian Woods bukan sekadar kecepatan, melainkan juga ketahanan luar biasa di tengah kondisi ekstrem yang menuntut fisik dan mental di batas maksimal.
Perjalanan yang dimulai 4 Juli dari Italia ini melintasi Slovenia, Austria, Jerman, Liechtenstein, Swiss, dan Prancis, sebelum berakhir di pesisir Mediterania, Monako. Total elevasi yang harus ditaklukkan setara dengan mendaki Gunung Everest sebanyak 12 kali. Woods dan timnya harus berhadapan dengan dua gelombang panas, badai, kawanan lalat kuda, serta kebakaran hutan yang memaksa mereka mengambil jalur memutar sejauh lima kilometer dengan tanjakan berbahaya setinggi 200 meter.
Dalam wawancara dengan BBC Sport, Woods mengaku kelelahan namun sangat bahagia. Dua hari terakhir ia hanya tidur satu setengah hingga dua setengah jam untuk memacu kecepatan di penghujung rute. "Saya sangat senang tapi lelah. Beberapa hari terakhir saya hanya tidur satu setengah sampai dua setengah jam untuk benar-benar memacu di akhir," ujarnya. Ia juga mengakui ada momen di mana ia merasa mustahil mencapai garis akhir, tetapi tekadnya untuk terus bergerak meski tubuh terasa sakit menjadi kunci keberhasilannya.
Via Alpina dikenal sebagai salah satu tantangan ketahanan paling berat di dunia. Hanya segelintir pelari yang pernah mencobanya dengan pengukuran waktu resmi. Woods, yang ditemani suaminya George, teman Zoe, dan anjingnya Nila, mengandalkan asupan McDonald's, pasta, dan gel energi untuk bertahan 15 hingga 18 jam lari setiap hari. Minggu pertama menjadi mimpi buruk dengan seluruh tubuh bengkak dan nyeri, namun memasuki minggu ketiga ia merasa semakin bugar. "Seperti sarapan gunung," katanya menggambarkan rasa percaya dirinya yang tumbuh.
Pencapaian Woods terjadi di tengah musim panas Eropa yang dilanda kebakaran hutan dan gelombang panas ekstrem. Italia bahkan menempatkan hampir semua kota besarnya dalam status siaga merah, sementara kebakaran di Prancis, Spanyol, dan Portugal memaksa lebih dari 300.000 orang mengungsi. Woods mengaku pernah dekat dengan kebakaran hutan dan sangat menakutkan. "Saya tidak ingin membahayakan diri sendiri, kru, atau siapa pun dengan melewati api," jelasnya. Rencana awal yang disusun pun banyak meleset karena setiap hari jarak dan tanjakan selalu lebih panjang dari perhitungan.
Keberhasilan Woods menambah daftar prestasi perempuan di dunia ultra-running tahun ini, setelah Rachel Entrekin memenangkan Cocodona 250 dengan rekor waktu pada Mei lalu. Di balik pencapaiannya, Woods juga melewati perjalanan sulit menjalani program bayi tabung (IVF) yang membuatnya ingin mengubah hidup. "Saya tidak ingin berlari lebih dari 30 hari, 30 hari itu cukup," katanya. Ia menegaskan bahwa ultra-running adalah soal persiapan, kekuatan mental, dan kemampuan bertahan saat segala sesuatunya tidak berjalan mulus. "Saya pikir perempuan sangat pandai beradaptasi dan terus maju," tambahnya.
Bagi Indonesia, prestasi Woods menjadi pengingat bahwa batas manusia bisa didorong lebih jauh dengan dedikasi dan persiapan matang. Meski belum banyak atlet Indonesia yang berkecimpung di ultra-running, tren olahraga ketahanan seperti trail running mulai tumbuh di berbagai daerah, dari dataran tinggi Dieng hingga pegunungan Bromo. Kisah Woods bisa menjadi inspirasi bagi pelari Tanah Air untuk berani menantang diri di ajang internasional, sekaligus mendorong ekosistem olahraga ekstrem di Indonesia agar lebih berkembang.
Setelah 29 hari berlari tanpa henti, Woods berencana memulihkan diri dengan bersantai di sofa, menonton Netflix, dan makan sayur-sayuran. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah rekor ini bertahan lama? Dengan semakin banyaknya pelari berbakat yang terinspirasi, bukan tidak mungkin Via Alpina akan kembali ditaklukkan dalam waktu yang lebih singkat. Satu hal yang pasti, nama Sophie Woods kini terukir dalam sejarah olahraga ketahanan dunia.



