Kanye West Bayar Damai untuk Tutup Kasus Pemerkosaan Asisten Lama
Baca dalam 60 detik
- Rapper Kanye West mencapai kesepakatan damai dengan Lauren Pisciotta, mantan asisten yang menuntutnya atas tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual.
- Kesepakatan tanpa syarat itu mengharuskan Pisciotta mengajukan permohonan pencabutan gugatan dalam 45 hari, dengan sidang lanjutan September mendatang.
- Kasus ini menjadi babak baru dalam deretan kontroversi hukum West, yang juga tengah menghadapi berbagai tuntutan serupa di masa lalu.

Kanye West, musisi kontroversial yang akrab disapa Ye, akhirnya menempuh jalan damai untuk menyelesaikan gugatan pelecehan seksual yang diajukan oleh mantan asisten pribadinya, Lauren Pisciotta. Kesepakatan itu dicapai pada 23 Juli lalu, mengakhiri sengketa hukum yang telah berlangsung lebih dari setahun.
Gugatan awal diajukan Pisciotta pada Juni 2024 dengan tuduhan pelecehan seksual, pelanggaran kontrak, dan pemecatan sepihak. Tak berselang lama, pengacara Pisciotta mengajukan amandemen yang menambahkan tuduhan penguntitan, kekerasan seksual, perdagangan manusia, dan penahanan paksa. Dalam dokumen yang diperoleh USA Today, kesepakatan damai itu dinyatakan sebagai "tanpa syarat" — artinya tidak ada perintah pengadilan yang mengikat untuk menyelesaikan kasus ini.
“Perkara ini telah selesai,” ujar Arick Fudali, kuasa hukum Pisciotta, kepada awak media. Meski demikian, detail nilai kesepakatan tidak diungkap ke publik. Dalam waktu 45 hari, Pisciotta diwajibkan mengajukan permohonan resmi untuk mencabut gugatan, dengan sidang lanjutan dijadwalkan pada 28 September.
Dokumen pengadilan yang bocor ke media, termasuk People, mengungkapkan tuduhan mengerikan. Pisciotta mengklaim bahwa West pernah berusaha memasukkan jarinya ke alat kelaminnya secara paksa, melakukan oral seks tanpa persetujuan, dan memerkosanya di hotel saat perjalanan dinas ke San Francisco pada 2021. Ia juga menuduh West menguncinya di kamar hotel dan memaksanya menyaksikan masturbasi, serta mencekik lehernya saat konser. Tak berhenti di situ, Pisciotta menyebut West menyewa pihak ketiga untuk meneror rumahnya dengan laporan palsu, yang mengakibatkan polisi dan petugas lain terus mendatanginya.
Sementara itu, kubu West sejak awal membantah habis-habisan tuduhan tersebut. Juru bicara West menyebut gugatan itu “tidak berdasar” dan menuduh Pisciotta melakukan “pemerasan dan ancaman” setelah ditolak. “Ia dipecat karena tidak berkualifikasi, meminta gaji tak masuk akal—hingga 4 juta dolar AS per tahun—dan perilaku liar yang tidak senonoh,” klaim sang jubir.
Kasus ini menambah panjang daftar perseteruan hukum yang membelit West, termasuk perceraian kontroversial dengan Kim Kardashian dan pernyataan publiknya yang sering memicu kontroversi. Bagi publik Indonesia, penyelesaian gugatan seperti ini menyoroti praktik penyelesaian arbitrase di kalangan selebritas global—di mana popularitas dan kekuatan finansial sering menjadi alat tawar untuk menutup kasus di luar pengadilan. Meski demikian, kesepakatan tanpa syarat menyisakan tanda tanya apakah ada pengakuan terselubung dari West atau sekadar strategi menghindari publikasi lebih lanjut.
Dengan jadwal pencabutan gugatan yang semakin dekat, kasus ini berpotensi menjadi preseden baru bagi penyelesaian sengketa serupa di industri hiburan. Akankah langkah damai ini benar-benar memulihkan reputasi West, atau justru menjadi awal dari tuntutan lain yang mengintai?



