Gypsy Rose Blanchard Siapkan 'Summer Glow-up' dengan Glowtox dan Filler Bibir: Antara Transformasi dan Kegelisahan
Baca dalam 60 detik
- Gypsy Rose Blanchard mengumumkan rencana perawatan kecantikan musim panas, termasuk Glowtox dan filler bibir, yang membuatnya gugup namun optimis.
- Di balik rencana 'glow up', figur kontroversial ini kembali mengingatkan publik pada masa lalunya: tujuh tahun penjara atas keterlibatan dalam kematian ibunya.
- Tren perawatan kecantikan ekstrem di Indonesia juga mencuat, seiring meningkatnya kesadaran akan risiko dan regulasi yang belum ketat.

Gypsy Rose Blanchard, perempuan 35 tahun yang pernah menjadi sorotan dunia atas kasus pembunuhan ibunya, kembali menjadi pusat perhatian. Kali ini, bukan karena persidangan atau hukuman, melainkan rencana 'summer glow-up' yang diumumkannya melalui media sosial. Dengan perpaduan antara kegelisahan dan antusiasme, ia bersiap menjalani sederet perawatan kosmetik, termasuk teknik Glowtox dan suntikan filler bibir.
Dalam unggahan Instagram, Gypsy Rose mengungkapkan bahwa ia akan menjalani Glowtox—kombinasi chemical peel profesional dan toksin botulinum. Ia mengaku gugup, terutama saat membayangkan jarum suntik di bibirnya. “Saya cukup gugup. Tapi saya percaya pada dokter yang menangani,” tulisnya. Ia juga berencana menambah volume bibir dengan filler, namun menekankan hasil yang natural dan tidak berlebihan. “Saya tidak ingin sesuatu yang gila,” katanya.
Latar belakang Gypsy Rose tentu tak bisa dilepaskan. Ia divonis tujuh tahun penjara atas perannya dalam kematian ibunya, Clauddine 'Dee Dee' Blanchard, yang dinilai abusive. Setelah bebas, ia kerap menjadi magnet pemberitaan. Dalam wawancara dengan Good Morning America, ia menegaskan bahwa ketenaran bukanlah tujuannya. “Saya pikir saya ini infamous, tapi kemudian saya terkenal,” ujarnya. Ia juga mengaku tidak menginginkan ibunya mati, melainkan hanya ingin keluar dari situasi yang menekan.
Di Indonesia, fenomena 'glow up' dengan prosedur seperti filler dan chemical peel juga makin populer, terutama di kalangan selebritas dan pengguna media sosial. Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih terus mengingatkan risiko efek samping, seperti infeksi atau hasil tidak sesuai harapan. Tren ini kerap dikaitkan dengan tekanan sosial untuk tampil sempurna, mirip dengan apa yang dialami Gypsy Rose. Bagi publik Indonesia, kisahnya bisa menjadi pengingat bahwa transformasi fisik tidak selalu mencerminkan kedamaian batin.
Gypsy Rose mengaku bahwa ia tidak pernah bercita-cita menjadi terkenal. Dalam wawancara dengan People, ia berkata, “Saya tidak ingin menjadi penyanyi atau aktris. Saya ingin menjadi sesuatu yang membuat perbedaan.” Kini, setelah menjalani hukuman dan mulai membangun hidup baru, ia tampak berusaha mendefinisikan ulang citranya. Namun, apakah langkah kosmetik ini bagian dari upaya rehabilitasi atau sekadar mengikuti arus budaya pop? Pertanyaan itu tetap menggantung.



