FIFA Dikepung Kritik: Rencana Investasi Rp 300 Triliun Tuai Penolakan dari Konfederasi
Baca dalam 60 detik
- FIFA berniat menjual hingga 20% saham anak usaha senilai $20 miliar untuk mengelola Piala Dunia, memicu kemarahan konfederasi regional yang tidak diajak diskusi.
- CONCACAF dan AFC menyatakan kecewa karena rencana itu diumumkan tanpa konsultasi, sementara UEFA menyebutnya sebagai upaya menjual 'jiwa' sepak bola.
- FIFA memberikan tenggat 19 September bagi asosiasi anggota untuk menyetujui paket $40 juta per negara atau kehilangan tawaran tersebut, memperburuk ketegangan.

Rencana FIFA untuk mendirikan anak usaha komersial senilai $20 miliar dan menawarkan saham kepada investor swasta menuai kecaman keras dari sejumlah konfederasi sepak bola regional. Mereka mengaku tidak diberi tahu sebelumnya dan baru mengetahui proposal tersebut dari pemberitaan media.
Dalam pernyataan resmi, Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyatakan kekecewaan mendalam. CONCACAF menyesalkan bahwa keputusan yang akan mengubah arah komersial sepak bola global dirancang dan disebarluaskan tanpa melibatkan badan tata kelola dan pemangku kepentingan terkait. AFC juga menekankan pentingnya transparansi dan konsultasi yang bermakna sebelum langkah signifikan diambil.
FIFA pada Selasa lalu mengumumkan pembentukan FIFA Forward Enterprise, sebuah entitas yang akan menangani operasional komersial dan penyelenggaraan Piala Dunia serta turnamen lainnya. Badan sepak bola dunia itu berencana melepas hingga 20% saham anak usaha tersebut kepada pihak eksternal guna mengumpulkan dana sekitar $4,2 miliar. Langkah ini dianggap sebagai upaya mencari pendanaan segar di tengah perluasan jumlah peserta Piala Dunia menjadi 48 tim pada edisi 2026.
Reaksi keras juga datang dari UEFA yang menuduh FIFA menggunakan sepak bola untuk memperkaya diri sendiri. “Hari ini kami mengetahui tenggat yang diberikan FIFA—dukung proposal atau tawaran dicabut. Ini menunjukkan segalanya tentang rencana ini,” tulis UEFA dalam pernyataannya. UEFA menambahkan bahwa mereka telah berdiskusi dengan banyak pemangku kepentingan dan mengetahui adanya penolakan yang meluas terhadap skema ini.
Ketua Asosiasi Sepak Bola Republik Ceko, David Trunda, menjadi salah satu dari sedikit suara yang mendukung rencana tersebut. Ia melihat manfaat pragmatis dari kerja sama dengan Presiden FIFA Gianni Infantino, meskipun mengakui perlunya detail lebih lanjut. Namun, dukungan itu tidak sebanding dengan gelombang kritik yang datang dari berbagai penjuru.
Kritik tidak hanya datang dari konfederasi, tetapi juga dari federasi nasional. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengaku tidak mengetahui rencana tersebut dan menyatakan keprihatinan atas kurangnya proses tata kelola. Komisioner Olahraga Uni Eropa Glenn Micallef menyoroti potensi konflik kepentingan jika kewenangan regulasi FIFA sejalan dengan kepentingan finansial investor swasta.
“Ketika nilai investasi bergantung pada keputusan yang diambil FIFA, hal itu menimbulkan pertanyaan serius tentang tata kelola, independensi, dan konflik kepentingan,” tulis Micallef di media sosial.
Bagi Indonesia, rencana ini memiliki implikasi langsung. Sebagai anggota AFC, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) akan menghadapi tekanan untuk memutuskan sikap. Jika PSSI menyetujui tawaran $40 juta, Indonesia bisa mendapatkan suntikan dana yang signifikan untuk pengembangan sepak bola nasional. Namun, keputusan tersebut harus mempertimbangkan solidaritas regional dan prinsip tata kelola yang baik. AFC sendiri telah menyatakan kekecewaannya, sehingga PSSI perlu berhati-hati dalam menyikapi ultimatum FIFA.
Dengan 143 dari 211 asosiasi anggota yang tergabung dalam konfederasi yang menentang atau menyatakan kekhawatiran, tekanan terhadap FIFA semakin besar. Pertemuan darurat direncanakan oleh UEFA dan konfederasi lainnya untuk membahas langkah selanjutnya. Apakah FIFA akan mundur atau memaksakan rencana ini? Yang jelas, keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah tata kelola keuangan sepak bola dunia untuk dekade mendatang.



