Rosie O'Donnell Kembali Panaskan Pertikaian dengan Trump: 'Dia Penipu Kelas Kakap'
Baca dalam 60 detik
- Aktris Rosie O'Donnell mengungkap bahwa ia pertama kali bertemu Donald Trump saat menghadiri pernikahannya dengan Marla Maples pada 1993.
- Dalam podcast terbaru, Rosie menyebut Trump sebagai 'grifter' dan 'sales minyak ular' serta mempertanyakan statusnya sebagai panutan moral bagi pemuda Amerika.
- Pertikaian yang telah berlangsung bertahun-tahun ini kembali mencuat, menyoroti polarisasi politik yang juga memengaruhi wacana publik di Indonesia.

Rosie O'Donnell kembali melontarkan kritik tajam terhadap Donald Trump, menyebut Presiden AS ke-45 itu sebagai penipu kelas kakap yang tidak layak dijadikan panutan moral. Dalam wawancara di podcast Bleep! with Ana Navarro, aktris berusia 64 tahun itu mengungkap awal mula perseteruannya dengan Trump yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
O'Donnell menceritakan bahwa ia pertama kali bertemu Trump saat menghadiri pernikahannya dengan Marla Maples pada 1993. Ia hadir sebagai pendamping Jason Opsahl, seorang aktor yang pernah bermain bersamanya di panggung musikal Grease. "Saya berpikir, 'Ini orang yang sejak kecil saya lihat pesawatnya disita di landasan LaGuardia, bangkrut berkali-kali, dan bertengkar dengan Forbes soal klaim kekayaannya,'" ujar O'Donnell, menambahkan bahwa Trump selalu gagal masuk daftar orang kaya versi Forbes karena pendapatannya tidak bisa diverifikasi.
Hubungan mereka sempat memiliki momen ringan ketika Trump membuat cameo diam di The Rosie O'Donnell Show pada era 1990-an. Namun, O'Donnell mengaku tidak pernah berbicara langsung dengannya saat itu. Kini, ia menilai Trump sebagai "grifter" (penipu), "con man", dan "sales minyak ular". Bagi O'Donnell, citra Trump yang dikenal sejak ia tumbuh di Long Island dan New York City bukanlah hal baru. "Ini bukan kejutan," tegasnya. Ia juga heran mengapa Trump dianggap sebagai "kompas moral" bagi anak muda Amerika, mengingat rekam jejak pernikahan dan perselingkuhannya.
Pertikaian ini kembali mencuat di tengah polarisasi politik Amerika yang kian tajam. O'Donnell, yang dikenal vokal dalam isu sosial dan politik, tidak segan mengkritik kebijakan dan kepribadian Trump. "Dia menggangguku di banyak level," kata O'Donnell. "Meninggalkan istri pertama, berselingkuh, meninggalkan istri kedua, berselingkuh, punya anak di kedua pernikahan—tapi dia dianggap kompas moral?" tanyanya sinis.
Di Indonesia, perseteruan antara selebritas dan tokoh politik AS ini kerap menjadi konsumsi publik karena drama dan retorika yang dipertontonkan. Kasus ini juga mencerminkan bagaimana figur publik dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan dan moralitas—sebuah fenomena yang relevan di tengah maraknya budaya selebriti di Tanah Air. Pertarungan opini antara O'Donnell dan Trump menunjukkan bahwa batas antara hiburan dan politik semakin kabur, bahkan memengaruhi cara publik menilai otoritas.
Ke depannya, publik akan terus menyaksikan bagaimana dinamika antara O'Donnell dan Trump berkembang. Keduanya sama-sama memiliki basis penggemar yang kuat dan tidak segan melontarkan kritik pedas. Pertanyaan yang muncul: akankah perseteruan ini mereda atau justru semakin memanas—terutama jika Trump kembali mencalonkan diri pada pemilu mendatang?



