Danielle Fishel Tak Lagi 'Mengikuti Arus' di Lokasi Syuting: Belajar Menetapkan Batasan demi Diri Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Aktris Danielle Fishel, pemeran Topanga, mengaku kini berani menetapkan batasan di lokasi syuting setelah bertahun-tahun menjadi 'mudah diatur'.
- Perubahan sikapnya sempat dianggap 'gila' oleh rekan kerja, namun ia memilih untuk menerima label 'sulit' demi kenyamanan pribadi.
- Kisahnya relevan bagi pekerja kreatif Indonesia yang kerap menghadapi tekanan untuk selalu akomodatif tanpa batasan yang jelas.

Danielle Fishel, yang namanya melegenda lewat peran Topanga dalam serial Boy Meets World dan Girl Meets World, mengaku telah mengubah pendekatannya di lokasi syuting. Di usia 45 tahun, ia tidak lagi menjadi pribadi yang selalu mengikuti arus tanpa banyak bicara. Kini, ia menerapkan aturan dan batasan yang jelas, sebuah langkah yang diakuinya tidak mudah.
Dalam wawancaranya di podcast I Choose Me bersama Jennie Garth, Fishel mengungkapkan bahwa dulu ia adalah sosok yang sangat kooperatif, bahkan cenderung pasif. "Saya benar-benar orang yang mengikuti arus, tidak ingin membuat masalah, dan selalu menjadi profesional yang mudah diajak kerja sama. Akibatnya, produser merasa bisa menyuruh saya melakukan apa pun tanpa saya menolak," ujarnya. Namun, saat beranjak dewasa dan terlibat dalam Girl Meets World, ia mulai menyadari perlunya perubahan. "Saya sudah menjadi pribadi yang berbeda, dewasa, punya pendapat sendiri, dan tidak lagi malu untuk menyampaikannya," kata Fishel.
Perubahan ini tidak datang tanpa konsekuensi. Fishel mengaku bahwa ia mulai berbicara ketika merasa tidak nyaman, dan respon yang diterimanya justru mengejutkan. Banyak yang menganggapnya "kehilangan akal" karena tiba-tiba menuntut batasan. "Mereka bilang, 'Dia gila! Lihat saja apa yang terjadi padanya. Dia punya aturan dan batasan tentang cara kita berbicara, menyentuh, dan berinteraksi dengannya. Ini keterlaluan!'", kenangnya. Meski sempat ragu dengan julukan "sulit" yang disematkan, Fishel akhirnya memilih untuk menerimanya. "Saya berpikir, 'Apa aku benar-benar sulit?' Tapi kemudian saya sadar, jika tidak melakukan ini, saya tidak bisa hidup dengan diri sendiri. Jadi, saya harus menjadi 'sulit' dan itu harus baik-baik saja bagi saya," tegasnya.
Kisah Fishel menjadi cermin penting bagi industri hiburan, termasuk di Indonesia. Di Tanah Air, budaya kerja yang menuntut pekerja kreatif untuk selalu "enak diajak kerja sama" masih kuat. Aktor, sutradara, dan kru seringkali enggan menetapkan batasan karena khawatir dicap susah atau tidak profesional. Padahal, pembicaraan tentang kesehatan mental dan kenyamanan di tempat kerja kini mulai mengemuka, didorong oleh generasi muda yang lebih sadar akan hak-hak mereka. Fenomena ini menggemakan perjuangan banyak pekerja seni Indonesia yang mulai berani bersuara, seperti yang dilakukan oleh beberapa figur publik dalam beberapa tahun terakhir.
Penolakan dan stigma yang dihadapi Fishel menunjukkan bahwa perubahan budaya di lokasi syuting masih berjalan lambat. Namun, dengan semakin banyaknya figur publik yang berani berbicara tentang pentingnya batasan, diharapkan industri hiburan—baik di Hollywood maupun Indonesia—dapat bergerak menuju lingkungan kerja yang lebih sehat dan saling menghormati. Pertanyaannya kini, sudah siapkah industri kita menerima para "pekerja sulit" yang sejatinya hanya menuntut kewajaran?



