FIFA Tawarkan Jual Saham Piala Dunia ke Investor Trump, Negara Kecil Dijanjikan Rp300 Miliar
Baca dalam 60 detik
- FIFA berencana menjual saham turnamen termasuk Piala Dunia ke investor dekat Trump demi pendanaan langsung ke 211 anggota.
- Rencana ini dianggap langkah paling berani Infantino, didukung suara mayoritas negara berkembang yang diuntungkan secara finansial.
- Eropa di bawah UEFA menentang keras, namun risiko boikot Piala Dunia dinilai kecil karena kepentingan tuan rumah bersama.

Gianni Infantino kembali mengguncang sepak bola global dengan rencana kontroversial: menjual sebagian hak kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta yang terafiliasi dengan Presiden AS Donald Trump. Langkah ini disebut sebagai bentuk demokratisasi sepak bola, namun disambut dengan kemarahan dari suporter, politikus, dan badan sepak bola regional.
Inti dari tawaran ini adalah janji pemberian dana sebesar 20 juta dolar AS (sekitar Rp300 miliar) kepada setiap negara anggota FIFA yang meratifikasi kesepakatan. Dana tersebut akan mulai disalurkan pada 1 Januari 2027, seperti tertuang dalam surat yang dikirim Infantino ke seluruh federasi nasional. Bagi negara-negara dengan anggaran kecil, suntikan dana ini setara dengan pemasukan beberapa tahun.
Infantino membutuhkan suara mayoritas sederhana dari 211 anggota FIFA untuk meloloskan rencana ini. Selama masa kepemimpinannya sejak 2016, ia telah membangun basis dukungan kuat dari Afrika, Asia, dan Amerika melalui perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim, peningkatan pendapatan komersial, serta program alokasi dana jutaan dolar setiap tahun. Lebih dari setengah anggota diperkirakan akan mendukung langkah ini.
Hubungan erat dengan Trump menjadi kunci. Dana investasi yang diajak bekerja sama adalah Thrive Capital, dipimpin Josh Kushner—ipar Ivanka Trump. Infantino sebelumnya juga menjalin kedekatan simbolis, seperti memberi Trump penghargaan perdamaian, membuka kantor FIFA di Trump Tower, dan menyimpan trofi Club World Cup di Ruang Oval. Langkah ini memungkinkan Infantino memanfaatkan pengaruh presiden AS untuk mengamankan dukungan politik dan finansial.
Namun, rencana ini memicu perlawanan sengit dari UEFA, badan sepak bola Eropa. Presiden UEFA Aleksander Ceferin memboikot final Piala Dunia setelah FIFA membatalkan sanksi pemain AS Folarin Balogun atas intervensi Trump. Perseteruan kian panas sejak FIFA memperluas Club World Cup yang langsung mengancam popularitas Liga Champions. Beberapa federasi Eropa mengancam boikot Piala Dunia, meski langkah itu dianggap sulit diwujudkan karena sejumlah negara Eropa menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Maroko.
Bagi Indonesia, rencana ini membawa dua sisi. Di satu sisi, PSSI berpotensi menerima dana segar besar yang bisa digunakan untuk pembinaan usia muda dan infrastruktur. Namun, mantan ketua komite tata kelola FIFA, Miguel Maduro, mengingatkan bahwa sistem patronase yang selama ini terjadi membuat dana kerap bocor. “FIFA bekerja seperti kartel politik. Ada risiko uang tidak sampai ke akar rumput,” ujarnya. Jika rencana disetujui, Indonesia perlu memastikan transparansi pengelolaan agar dana benar-benar membangun sepak bola nasional.
Infantino tampaknya berada di posisi yang paling kuat selama satu dekade terakhir. Dengan dukungan negara-negara kecil dan investasi dari lingkaran Trump, ia bisa mengonsolidasi kekuasaan jangka panjang. Pertanyaan besarnya: apakah Eropa rela kehilangan pengaruh atau justru akan mengambil langkah dramatis, seperti memboikot Piala Dunia putri 2025 di Brasil? Waktu akan menunjukkan sejauh mana konflik ini berlanjut.



