Anya Taylor-Joy: Keamanan dalam Pernikahan Membuat Saya Lebih Berani Ambil Risiko
Baca dalam 60 detik
- Bintang 'The Queen's Gambit' mengaku rasa aman dari pernikahan memicunya berani mencoba hal baru.
- Pesta ulang tahun ke-30 bergaya 'culty' menjadi bukti keberaniannya mengekspresikan diri.
- Keputusan mengurangi media sosial dinilai membantu Anya Taylor-Joy lebih fokus pada momen nyata.

Pernikahan bukan hanya tentang komitmen, tapi juga bisa menjadi fondasi untuk berani melangkah lebih jauh. Hal itulah yang dirasakan aktris Anya Taylor-Joy, yang mengaku bahwa pernikahannya dengan Malcolm McRae pada 2022 telah memberinya dorongan untuk mengambil lebih banyak risiko dalam hidup.
Dalam wawancara eksklusif dengan majalah ELLE UK edisi September, bintang film 'Lucky' itu mengungkapkan perasaannya. “Aku tidak ingin terdengar sombong, tapi aku sangat mencintainya. Memiliki sahabat yang menjalani hidup bersamamu memberiku rasa aman yang tak pernah kumimpikan sebelumnya,” ujarnya. Anya menambahkan, keamanan emosional ini justru membuatnya semakin berani, karena ia tahu ada dukungan yang kokoh di belakangnya. “Sekarang aku merasa berani mengambil risiko karena aku punya sesuatu yang bergizi, solid, sehat, dan sangat menyenangkan. Aku tertawa sekitar 90% dari waktuku,” tambahnya.
Perubahan pola pikir ini juga tercermin dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-30 pada April lalu. Anya menggelar pesta bertema 'Spectral Spring' dalam waktu hanya dua hari persiapan. “Dua ratus orang favoritku di satu tempat, pada hari Rabu, di LA. Teman-temanku memainkan musik techno yang cukup intens, dan aku sadar itu bukan selera semua orang, tapi mereka larut juga. Aku ingin pestanya tampak seperti sekte. Semua orang memakai gaun atau jas putih panjang dan mahkota bunga,” kisahnya. Aktris yang juga bermain di film 'Dune' ini mengaku sejak remaja sudah gemar musik rave, meninggalkan balet pada usia 15 tahun demi klub malam. “Itu cukup mewakili kepribadianku: balet yang anggun dan techno yang gelap,” ujarnya sambil tertawa.
Anya Taylor-Joy juga dikenal memiliki ketahanan mental yang kuat. Ia justru merasa bersemangat saat menghadapi situasi sulit, dan senang mengubah momen yang membuat orang lain menderita menjadi penuh kegembiraan. “Ada api yang menyala dalam diriku ketika menyadari sesuatu akan sulit. Aku suka berada dalam situasi di mana orang lain akan sengsara, lalu mengubahnya menjadi tempat penuh suka cita. Seperti syuting Dune di padang pasir. Ya, panas. Tapi siapa peduli? Ini luar biasa!” katanya. Ia menambahkan, pengalaman gelap di masa lalu membuatnya semakin menghargai setiap momen, termasuk kelelahan karena melakukan hal yang dicintai.
Di tengah sorotan dunia hiburan, Anya memilih untuk mengurangi kehadirannya di media sosial. “Aku sudah offline untuk beberapa waktu. Terkadang aku merasa tidak tahu apa yang terjadi di dunia maya, tapi menurutku itu sangat menyenangkan untuk bisa hadir sepenuhnya,” jelasnya. Keputusan ini sejalan dengan tren banyak selebritas yang mulai menjauh dari hiruk-pikuk digital demi kesehatan mental. Pertanyaannya, akankah langkah serupa diikuti oleh figur publik lainnya di Indonesia? Di tengah tekanan eksistensi digital, pilihan Anya Taylor-Joy menjadi pengingat bahwa rasa aman dan keberanian bisa datang dari dalam, bukan dari validasi eksternal.



