Dewan Direksi PayPal Tolak Tawaran Akuisisi Stripe-Advent Senilai Rp857 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Dewan direksi PayPal menilai tawaran akuisisi senilai $53 miliar dari konsorsium Stripe dan Advent International terlalu rendah dan menghadapi kendala regulasi serta pendanaan.
- Konsorsium telah menyiapkan paket pembiayaan $50 miliar dari JPMorgan dan Morgan Stanley, serta opsi pemisahan unit Braintree untuk mengatasi masalah antimonopoli.
- Negosiasi diperkirakan berlangsung alot, dengan PayPal masih mengandalkan strategi pemulihan internal sementara investor menanti laporan laba 28 Juli.

Dewan direksi PayPal menilai tawaran akuisisi senilai $53 miliar (sekitar Rp857 triliun) yang diajukan oleh rivalnya, Stripe, bersama perusahaan ekuitas swasta Advent International, terlalu rendah dan sarat dengan hambatan regulasi serta pendanaan. Penilaian awal ini membuka peluang negosiasi lebih lanjut mengenai masa depan raksasa pembayaran digital asal Amerika Serikat tersebut.
Menurut sumber yang mengetahui langsung masalah ini, PayPal belum memberikan tanggapan resmi atas proposal yang diajukan awal Juli lalu. Konsorsium Stripe-Advent menawarkan $60,50 per saham, yang sebenarnya sudah di atas harga pasar saham PayPal yang ditutup pada $56,73 pada Kamis lalu. Namun, dewan direksi berpendapat bahwa angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan potensi nilai perusahaan jika strategi pemulihan manajemen berhasil dijalankan dalam beberapa tahun ke depan.
Kombinasi Stripe dan PayPal, dua platform pembayaran paling luas digunakan oleh pedagang internet, akan menciptakan salah satu perusahaan pembayaran online terbesar di dunia dengan volume transaksi tahunan sekitar $3,7 triliun. Namun, PayPal yang didirikan pada akhir 1990-an tengah berjuang menghadapi persaingan ketat dari Apple Pay dan Google Pay, serta perlambatan pertumbuhan yang membuat harga sahamnya tertekan.
Selain masalah harga, dewan direksi juga mempertimbangkan kepastian pendanaan, potensi hambatan regulasi, dan kemungkinan jadwal transaksi yang panjang. Konsorsium telah berupaya mengatasi beberapa kendala ini. JPMorgan dan Morgan Stanley telah menyediakan paket pembiayaan sekitar $50 miliar, sementara Stripe dan Advent menyuntikkan ekuitas $17 miliar. Untuk mengantisipasi masalah antimonopoli, konsorsium juga telah menyiapkan opsi pemisahan unit Braintree milik PayPal dan menggabungkannya dengan investasi Advent di sektor pembayaran, termasuk Nuvei.
Meskipun PayPal keberatan dengan proposal saat ini, konsorsium tetap dianggap sebagai penawar paling serius dan masih tertarik mencapai kesepakatan. Namun, negosiasi diperkirakan memakan waktu. Sebelumnya, Block (perusahaan induk Square) sempat bergabung dalam konsorsium pada April lalu, namun kemudian keluar sebelum pengajuan tawaran terbaru.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini menjadi perhatian karena PayPal dan Stripe banyak digunakan oleh pelaku e-commerce dan startup di Tanah Air. Potensi merger raksasa pembayaran global dapat memengaruhi biaya transaksi, inovasi produk, dan pilihan layanan bagi konsumen serta merchant di Indonesia. Regulator domestik juga perlu mencermati dampak persaingan dan stabilitas sistem pembayaran jika transaksi ini terealisasi.
Investor kini menanti laporan laba PayPal pada 28 Juli mendatang untuk melihat tanda-tanda stabilisasi bisnis inti checkout-nya. Sebelumnya, perusahaan mengeluarkan prospek yang lebih lemah dari perkiraan dan memperingatkan perlambatan momentum di segmen tersebut. Pertanyaan besarnya: akankah PayPal mampu membalikkan keadaan sendiri, atau justru tekanan pasar yang akan memaksanya menerima tawaran yang ada?



