Craig Gordon Gantung Sarung Tangan: Kiper Legendaris Skotlandia Pensiun Setelah 25 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Craig Gordon, kiper berusia 43 tahun, resmi mengakhiri karier sepak bola profesionalnya setelah 25 tahun berkarier.
- Ia mencatat rekor transfer kiper termahal Inggris saat pindah ke Sunderland pada 2007 dengan biaya £9 juta.
- Gordon meninggalkan warisan 84 caps bersama Skotlandia dan 766 pertandingan tim utama, termasuk dua kali comeback dari cedera parah.

Craig Gordon, kiper legendaris asal Skotlandia, secara resmi mengumumkan pensiun dari dunia sepak bola setelah menjalani karier profesional selama seperempat abad. Dalam video emosional yang dirilis melalui klub masa kecilnya, Heart of Midlothian, Gordon menyatakan bahwa meskipun ia tak pernah ingin berhenti, waktu telah memaksanya untuk mengakhiri perjalanan panjangnya. “Saya telah menjalani mimpi saya, dan untuk itu saya sangat bersyukur,” ujarnya.
Gordon, 43 tahun, mengakhiri masa baktinya di Hearts pada musim panas ini setelah dua periode bersama klub tersebut. Ia juga menjadi bagian dari skuad Skotlandia yang berlaga di Piala Dunia. Kariernya dimulai di Hearts pada 2000, sebelum ia pindah ke Sunderland pada 2007 dengan rekor transfer kiper termahal Inggris saat itu, £9 juta. Salah satu momen paling ikonik dalam kariernya adalah penyelamatan spektakuler dari jarak dekat melawan Bolton Wanderers pada 2010, yang dikenang sebagai salah satu penyelamatan terbaik dalam sejarah Premier League.
Namun, cedera lutut serius menghambat masa-masanya di Sunderland. Setelah lima tahun, ia sempat vakum selama dua tahun untuk menjalani rehabilitasi dan melatih. Gordon kemudian bergabung dengan Celtic pada 2014, di mana ia meraih lima gelar Liga Skotlandia, dua Piala Skotlandia, dan lima Piala Liga. Pada 2022, ia mengalami patah kaki ganda, tetapi kembali pulih dan bermain lagi—sebuah bukti ketangguhan mental dan fisiknya.
Gordon memulai debutnya untuk Skotlandia pada 2004 dan mengumpulkan 84 caps senior. Penampilan terakhirnya bersama timnas terjadi pada laga pramusim Piala Dunia melawan Curacao, sementara pertandingan terakhirnya untuk Hearts adalah hasil imbang 2-2 melawan mantan klubnya, Celtic, pada Januari lalu. Akun media sosial timnas Skotlandia memuji kariernya sebagai “karier yang tak ada duanya”.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah Gordon menjadi inspirasi tentang ketekunan dan dedikasi. Di tengah maraknya kiper asing di Liga Indonesia, perjalanan Gordon menunjukkan bahwa usia bukanlah halangan untuk tampil di level tertinggi, asalkan didukung oleh kerja keras dan mentalitas baja. Ia juga menjadi contoh bagaimana seorang pemain bisa bangkit dari cedera parah—sebuah pelajaran berharga bagi pesepak bola Tanah Air yang kerap menghadapi risiko cedera serupa.
Gordon dijadwalkan akan berpamitan dengan pendukung Hearts dalam pertandingan persahabatan melawan Rayo Vallecano di Tynecastle. Dalam pernyataannya, ia mengucapkan terima kasih kepada rekan setim, pelatih, staf medis, keluarga, dan para penggemar yang telah mendukungnya selama 24 tahun. “Sekarang sarung tangan ini akhirnya saya lepas, dan saya pamit dari karier bermain. Kalian, para penggemar, telah memberi saya segalanya,” tutupnya.
Dengan pensiunnya Gordon, dunia sepak bola kehilangan salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki Skotlandia. Pertanyaan besarnya kini: akankah ada penerus yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkannya, baik di Hearts maupun di tim nasional? Atau justru era baru tanpa sosok legendaris seperti Gordon akan melahirkan talenta-talenta segar yang siap bersinar?



