Robin Gosens Akhirnya ke Schalke 04, Fiorentina Rela Rugi Demi Hemat Gaji
Baca dalam 60 detik
- Bek kiri Robin Gosens resmi hijrah ke Schalke 04 setelah dicoret dari skuad utama Fiorentina oleh pelatih anyar Fabio Grosso.
- Kesepakatan berupa pinjaman dengan kewajiban tebus senilai 2,5 juta euro plus bonus, jauh di bawah nilai transfer sebelumnya yang mencapai 27,4 juta euro.
- Gosens, yang sejak kecil menjadi penggemar Schalke, akhirnya bermain untuk klub idolanya di usia 32 tahun setelah karier gemilang di Italia.

Robin Gosens akhirnya mendapatkan klub baru setelah masa depannya di Fiorentina benar-benar buntu. Bek kiri asal Jerman itu sepakat pindah ke Schalke 04, klub yang sejak kecil ia idolakan, setelah didepak dari skuad utama La Viola pada pramusim. Kepindahan ini menjadi akhir dari kisah singkat Gosens di Florence yang hanya berlangsung beberapa bulan.
Menurut laporan pakar transfer Jerman Florian Plettenberg di Sky Sports Deutschland, kesepakatan penuh telah tercapai antara kedua klub dan juga dengan pemain. Fiorentina setuju melepas Gosens dengan skema pinjaman yang diikuti kewajiban pembelian sebesar 2,5 juta euro plus bonus. Angka itu sangat kontras dengan harga yang pernah dibayarkan Inter Milan untuknya pada 2022, yakni 27,4 juta euro. Namun, mengingat Gosens sudah tidak masuk dalam rencana pelatih Fabio Grosso—ia bahkan tidak diundang bergabung ke Viola Park—manajemen Fiorentina lebih memilih menerima biaya minimal demi menghemat beban gaji.
Bagi Gosens, kepindahan ini bukan sekadar pelarian dari situasi pelik. Ia tumbuh sebagai pendukung setia Schalke 04 dan belum pernah sekalipun membela klub tersebut. Setelah menghabiskan sebagian besar kariernya di Italia—mulai dari Atalanta pada 2017, lalu ke Inter Milan, sempat kembali ke Jerman bersama Union Berlin pada 2023-24, dan akhirnya ke Fiorentina—kini ia berkesempatan memperkuat klub masa kecilnya. Meski Schalke saat ini bermain di 2. Bundesliga, Gosens diyakini akan menjadi pemain kunci dalam upaya promosi klub ke kasta tertinggi.
Keputusan Fiorentina menyingkirkan Gosens menimbulkan tanda tanya. Pemain yang sempat menjadi andalan di Atalanta dan Inter itu dianggap masih memiliki kualitas. Namun, dengan kedatangan pelatih baru Fabio Grosso yang ingin membangun skuad sesuai visinya, Gosens menjadi korban perombakan. Langkah ini juga menunjukkan pragmatisme Fiorentina yang lebih memilih memotong kerugian daripada mempertahankan pemain dengan gaji tinggi yang tidak masuk rencana.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Gosens menjadi contoh bagaimana dinamika transfer bisa berubah drastis. Dari pahlawan di Atalanta yang dibanderol mahal, kini ia harus rela pindah dengan harga murah ke klub divisi dua. Ini juga mengingatkan pada fenomena pemain yang memilih klub karena ikatan emosional, bukan sekadar faktor finansial—sesuatu yang jarang terjadi di era sepak bola modern yang serba komersial. Pertanyaan besarnya, mampukah Gosens mengembalikan kejayaannya di Schalke dan membawa klub itu kembali ke Bundesliga?



