Newcastle Buru Mandela Keita: Alternatif Murah Pengganti Tonali
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United mengalihkan target ke gelandang Parma, Mandela Keita, setelah gagal mendapatkan Johan Manzambi yang memilih Aston Villa.
- Keita, yang dibanderol €25 juta, dinilai sebagai opsi lebih hemat dan solid secara defensif, cocok menggantikan Sandro Tonali yang hengkang.
- Persaingan dari Leeds United dan Everton bisa menghambat, namun Newcastle didorong untuk bergerak cepat demi mengakhiri rentetan kegagalan transfer.

Newcastle United kembali harus memutar otak di bursa transfer setelah target utama mereka, Johan Manzambi, memilih bergabung dengan Aston Villa. Kini, klub asal Tyneside itu dikabarkan telah menjalin kontak dengan Parma untuk merekrut gelandang bertahan Mandela Keita sebagai solusi darurat di lini tengah.
Kegagalan demi kegagalan di bursa transfer mulai menjadi pola yang mengkhawatirkan bagi Newcastle. Dalam setahun terakhir, mereka kehilangan beberapa incaran seperti Hugo Ekitike, Victor Munoz, Benjamin Sesko, dan kini Manzambi. Situasi ini diperparah dengan kepergian Sandro Tonali ke AC Milan dan potensi hengkangnya Bruno Guimaraes, membuat lini tengah The Magpies berada dalam tekanan besar.
Mandela Keita muncul sebagai opsi yang lebih realistis secara finansial. Parma dilaporkan hanya mematok harga €25 juta (£21 juta) untuk pemain berusia 24 tahun itu—angka yang jauh lebih rendah dibandingkan klausul Manzambi. Meski demikian, minat dari Leeds United dan Everton bisa memicu perang harga yang tak diinginkan Newcastle.
Keita dikenal sebagai gelandang box-to-box yang unggul saat tim tidak menguasai bola. Menurut pengamat pemain Antonio Mango, ia adalah pemain yang "brilian" dan lebih aman secara defensif dibandingkan Manzambi yang cenderung ofensif. Dengan kepergian Tonali, kebutuhan Newcastle akan pemain bertipe pekerja keras di lini tengah menjadi prioritas utama.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Newcastle ini menarik untuk diikuti karena menunjukkan bagaimana klub Premier League harus pintar-pintar mencari alternatif di tengah persaingan transfer yang ketat. Model pendekatan seperti ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, dalam membangun skuad dengan anggaran terbatas.
Laporan dari Parma Today yang dikutip Sport Witness menyebutkan bahwa Newcastle sudah melakukan pendekatan awal dan tengah menjajaki negosiasi. Namun, sejarah menunjukkan bahwa The Magpies kerap kalah dalam perebutan pemain karena lambat bergerak. Kini, tekanan waktu dan kebutuhan mendesak bisa mendorong mereka untuk mengambil keputusan lebih agresif.
Jika Newcastle benar-benar ingin mengakhiri siklus kegagalan, mereka harus segera menyelesaikan kesepakatan untuk Keita sebelum klub lain mengambil alih. Pertanyaannya, akankah Eddie Howe dan jajaran manajemen mampu mengamankan tanda tangan pemain asal Belgia itu, atau kembali menjadi korban dari permainan bursa transfer yang kejam?



