Jordan Pickford: Kiper Inggris yang Tak Lagi Terbantahkan
Baca dalam 60 detik
- Jordan Pickford akan memecahkan rekor penampilan terbanyak di Piala Dunia untuk Inggris saat menghadapi Norwegia di perempat final.
- Penampilan gemilangnya melawan Meksiko di Azteca menunjukkan kematangan dan keberanian yang jarang diakui publik.
- Dengan catatan kebobolan minim dan distribusi bola akurat, Pickford layak disebut sebagai kiper terbaik Inggris dalam satu dekade terakhir.

Jordan Pickford, kiper Everton berusia 32 tahun, akan mencatatkan namanya dalam sejarah sepak bola Inggris saat tampil melawan Norwegia pada perempat final Piala Dunia di Miami. Penampilan ke-18 di turnamen tersebut akan melampaui rekor legenda Peter Shilton, sekaligus menegaskan statusnya sebagai kiper utama yang tak tergoyahkan sejak 2018.
Perjalanan Pickford menuju rekor ini tidak selalu mulus. Pada awal turnamen, ia sempat melakukan kesalahan saat Inggris kebobolan dari Republik Demokratik Kongo. Namun, dalam laga hidup mati melawan Meksiko di Stadion Azteca yang legendaris, Pickford menunjukkan performa terbaiknya. Dua penyelamatan gemilang dari Raul Jimenez di babak pertama dan penguasaan area penalti yang dominan di babak kedua—saat Inggris bermain dengan 10 pemain—menjadi kunci kemenangan 3-2.
Mantan kiper Inggris Paul Robinson menilai Pickford kerap kurang dihargai. "Lihat angka-angka yang dia buat: jumlah clean sheet, pengalaman turnamen. Dia hanya kalah dari David Raya dalam hal clean sheet di Premier League dua musim terakhir, padahal Raya bermain untuk Arsenal yang jauh lebih kuat," ujar Robinson kepada BBC Sport. Dalam 89 penampilan bersama Inggris, Pickford hanya kebobolan 59 gol dan mencatat 44 clean sheet, dengan hanya dua kesalahan yang berujung gol menurut statistik Opta.
Yang menarik, Pickford berhasil mempertahankan posisinya di bawah tiga pelatih berbeda: Gareth Southgate dan Thomas Tuchel. Awalnya Tuchel diragukan akan memilihnya, tetapi kenyataannya Pickford tetap menjadi pilihan utama. Robinson menambahkan, "Dia adalah nama pertama di daftar pemain. Tidak ada yang mempertanyakan lagi. Kebisingan tentang posisi kiper sudah lama tidak terdengar, sejak era David Seaman."
Perkembangan Pickford tidak hanya terlihat dari statistik, tetapi juga dari cara bermainnya. Ia kini lebih berani keluar dari garis gawang, mengambil keputusan berani dalam situasi bola mati, dan distribusi bolanya—baik pendek maupun panjang—menjadi senjata serangan balik Inggris. Melawan Meksiko, umpan panjangnya langsung berbuah gol. "Dia menunjukkan kedewasaan dan keberanian. Mudah bagi kiper untuk tetap di garis gawang agar tidak dikritik, tapi dia memilih sebaliknya," kata Robinson.
Bagi Indonesia, kisah Pickford bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan ketahanan mental. Di tengah gempuran kritik dan ekspektasi tinggi, ia tetap fokus dan terus berkembang. Dalam konteks sepak bola nasional, jarang ada kiper yang mampu mempertahankan performa puncak selama bertahun-tahun tanpa tergantikan. Pickford membuktikan bahwa dengan kerja keras dan kepercayaan diri, seorang pemain bisa menjadi pilar tim dalam jangka panjang.
Kini, tantangan berikutnya adalah menghadapi Norwegia yang diperkuat Erling Haaland, striker tajam yang baru saja membungkam Brasil. Robinson yakin kepercayaan diri Pickford dan tim sedang berada di puncak. "Setelah kemenangan melawan Meksiko, semuanya positif. Pickford adalah bagian besar dari itu," tutupnya. Pertanyaannya, mampukah ia kembali menjadi pahlawan dan membawa Inggris melaju lebih jauh?



