Indonesia Usir 92 WN China dan Larang Masuk Seumur Hidup: Sindikat Scam Makin Marak
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 92 warga negara China dideportasi dari Batam dan dicekal seumur hidup karena terlibat jaringan penipuan daring yang menargetkan korban di China.
- Indonesia menjadi pusat operasi baru sindikat judi online dan scam siber setelah negara-negara Asia Tenggara daratan utama memperketat penindakan.
- Direktorat Jenderal Imigrasi tengah meninjau ulang kebijakan bebas visa bagi negara-negara yang menjadi sumber utama pelaku scam.

Pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dengan mendeportasi 92 warga negara China yang ditangkap di Batam, Kepulauan Riau, dan menjatuhkan larangan masuk seumur hidup atas dugaan keterlibatan dalam jaringan penipuan daring. Langkah ini menjadi sinyal keras bahwa Indonesia tidak akan menjadi tempat berlindung bagi sindikat kejahatan transnasional.
Kepala Kantor Imigrasi Batam, Kharisma Rukmana, mengungkapkan bahwa pemulangan dilakukan pada Minggu lalu melalui penerbangan China Southern Airlines menuju Guangzhou dari Bandara Soekarno-Hatta. Proses deportasi melibatkan protokol kontingensi khusus, termasuk verifikasi biometrik dan pengawalan ketat hingga ke pesawat, untuk memastikan tidak mengganggu operasional bandara. Biaya operasional seluruhnya ditanggung oleh Kementerian Keamanan Publik China, yang juga mengirimkan tim pengawal.
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menegaskan bahwa deportasi dan larangan masuk seumur hidup ini diharapkan menjadi efek jera bagi warga asing lain yang berniat melakukan kejahatan di Indonesia. "Kami tidak akan mentolerir warga negara asing yang mengancam ketertiban dan keamanan umum," ujarnya dalam pernyataan resmi. Keputusan menyerahkan para tersangka ke otoritas China diambil karena seluruh korban adalah warga China.
Para tersangka merupakan bagian dari 210 orang yang ditangkap dalam penggerebekan di Kompleks Apartemen Baloi View, Lubuk Baja, Batam, pada 6 Mei lalu. Selain 92 warga China, sisanya berasal dari Vietnam dan Myanmar. Mereka diduga terlibat dalam berbagai kejahatan siber, termasuk penipuan investasi, penipuan romantis, judi online, dan phishing. Sebagian besar masuk Indonesia menggunakan fasilitas bebas visa atau visa on arrival dengan menyamar sebagai turis.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran pola operasi sindikat kejahatan siber di Asia Tenggara. Kepolisian Nasional mencatat bahwa Indonesia kini menjadi pusat operasi baru bagi jaringan judi online dan scam transnasional, seiring dengan meningkatnya tekanan di negara-negara seperti Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam. Dalam beberapa bulan terakhir, serangkaian pengungkapan kasus serupa terjadi di berbagai daerah. Di Medan, tujuh warga China dan Vietnam bersama 31 warga Indonesia ditangkap terkait sindikat penipuan kencan internasional. Di Jawa Tengah, polisi membongkar sindikat yang menggunakan teknik "pig butchering" untuk menjerat korban berinvestasi besar.
Bahkan di Jakarta, sebanyak 321 warga asing yang diduga terkait sindikat judi online ditangkap dari sebuah gedung perkantoran di Jalan Hayam Wuruk. Mereka terdiri dari 228 warga Vietnam, 57 warga China, dan sisanya dari Myanmar, Laos, Thailand, dan Kamboja. Di Surabaya, polisi menyelamatkan dua warga Jepang yang disekap oleh jaringan scam internasional yang melibatkan 44 orang dari Indonesia, China, Jepang, dan Taiwan.
Merespons gelombang kejahatan ini, Direktorat Jenderal Imigrasi sedang melakukan kajian menyeluruh terhadap kebijakan bebas visa bagi negara-negara yang teridentifikasi sebagai sumber utama pelaku scam. Langkah ini diambil untuk mencegah Indonesia menjadi surga bagi sindikat transnasional. Pertanyaannya, akankah peninjauan kebijakan visa dan penegakan hukum yang lebih keras mampu menghentikan laju sindikat yang terus beradaptasi ini?



