Grosso Resmi Latih Fiorentina: Target Bangun Tim Kompetitif dan Bertahan Lama
Baca dalam 60 detik
- Fabio Grosso ditunjuk sebagai pelatih baru Fiorentina dengan kontrak hingga 2028, menggantikan pelatih sebelumnya setelah musim yang nyaris membuat klub terdegradasi.
- Pelatih berusia 46 tahun itu bertekad menerapkan formasi 4-3-3 dan membangun skuad yang tidak hanya kompetitif tetapi juga berkelanjutan, dengan dukungan direktur olahraga Fabio Paratici.
- Beberapa rekrutan anyar seperti Radu Dragusin dan Arthur Atta diharapkan menjadi fondasi, sementara pemain seperti Moise Kean dan Nicolò Fagioli akan menjadi andalan.

Fabio Grosso resmi diperkenalkan sebagai pelatih baru Fiorentina pada hari yang bersejarah, tepat 20 tahun setelah ia mengeksekusi penalti kemenangan Italia di final Piala Dunia 2006. Dalam konferensi pers perdananya, Grosso menegaskan bahwa klub asal Florence itu tengah berada dalam fase pembangunan kembali setelah musim lalu nyaris terjerumus ke jurang degradasi.
“Saya sadar apa yang diminta dari saya. Klub ingin membangun kembali sesuatu yang indah, dan saya menjadikannya pegangan,” ujar Grosso. Mantan pelatih Sassuolo itu menandatangani kontrak berdurasi hingga Juni 2028, plus opsi perpanjangan satu tahun. Ia mengaku bangga bisa menukangi klub sekelas Fiorentina dan bertekad mengembalikan kejayaan tim.
Musim lalu, Fiorentina hanya selamat dari degradasi pada pekan-pekan terakhir Serie A. Kondisi itu mendorong manajemen untuk melakukan perombakan besar-besaran, termasuk mendatangkan Grosso yang dikenal sebagai arsitek taktik 4-3-3. Grosso menegaskan bahwa ia akan tetap setia pada formasi andalannya, meski tidak menutup kemungkinan melakukan penyesuaian sesuai situasi.
“Saya selalu menyukai tim yang berani dan menyerang. Idenya adalah bermain 4-3-3, itu yang selalu saya lakukan, dan saya ingin melanjutkannya,” kata Grosso. Namun, ia juga mengakui bahwa karakteristik pemain bisa memengaruhi cara bermain. Salah satu pemain yang mungkin perlu adaptasi adalah Albert Gudmundsson, yang menurut Grosso bukan tipikal winger murni atau striker, dan tidak cocok di lini tengah.
Grosso memuji kinerja direktur olahraga Fabio Paratici dalam mendatangkan pemain baru. Ia menyebut Arthur Atta sebagai pemain kuat dengan potensi besar dan membayangkannya bermain di sisi kiri lini tengah tiga pemain. Sementara itu, Radu Dragusin dinilai sebagai rekrutan penting karena pengalamannya di klub top. “Saya percaya pada pilihan direktur,” tegas Grosso.
Menariknya, Grosso sudah akrab dengan beberapa pemain Fiorentina saat ini. Moise Kean dan Nicolò Fagioli pernah berada di bawah asuhannya di tim muda Juventus. Grosso mengaku tidak sabar bekerja sama lagi dengan Kean, yang sejak muda selalu bercita-cita menjadi pemain kelas dunia. “Dia adalah pemain penting di skuad ini bagi saya,” ujarnya. Fagioli juga dinilai memiliki kualitas besar dan bisa meningkat dalam hal membangun serangan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Grosso membawa Fiorentina bangkit bisa menjadi inspirasi. Klub-klub Indonesia yang sering berganti pelatih dan strategi dapat belajar dari pendekatan Grosso yang mengedepankan konsistensi formasi dan pembangunan jangka panjang. Selain itu, keberanian Grosso mempertahankan identitas taktik meski dihadapkan pada tekanan hasil patut diapresiasi.
Grosso menutup konferensi pers dengan optimisme hati-hati. “Kami ingin membuat Fiorentina menjadi protagonis di liga ini. Memikirkan ke mana kami ingin pergi bisa membuat jalan terlihat lebih jelas, tapi kami juga tahu bahwa tindakan lebih penting daripada kata-kata saat ini.” Pertanyaan besarnya, akankah Grosso mampu mengulang suksesnya sebagai pemain di Piala Dunia 2006 dan membawa Fiorentina kembali ke papan atas Serie A?



