Mereda Setelah Melonjak: Harga Minyak Terkoreksi di Tengah Ketegangan AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia turun tipis pada perdagangan Kamis setelah melonjak 8,7% sehari sebelumnya akibat eskalasi konflik AS-Iran.
- Pencabutan izin ekspor minyak Iran oleh OFAC dan serangan udara AS terhadap 90 target militer Iran memperkuat kekhawatiran gangguan pasokan global.
- Kebijakan moneter ketat The Fed yang berpotensi menekan permintaan energi menjadi faktor pembatas kenaikan harga lebih lanjut.

Harga minyak mentah dunia bergerak turun tipis pada perdagangan Kamis pagi, setelah sehari sebelumnya mencatat lonjakan terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Investor mulai merealisasikan keuntungan di tengah ketegangan geopolitik yang masih membara antara Amerika Serikat dan Iran, sembari mencermati potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia.
Brent crude tercatat di level 77,81 dolar AS per barel, melemah sekitar 0,3 persen dari posisi penutupan sebelumnya di 78,02 dolar AS. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), turun 0,2 persen menjadi 73,33 dolar AS per barel. Koreksi ini terjadi setelah pada Rabu lalu Brent sempat menyentuh 80,59 dolar AS per barel, level tertinggi dalam beberapa bulan, dipicu pernyataan Presiden Donald Trump yang mengakhiri negosiasi dengan Iran.
Tekanan jual muncul karena pelaku pasar mengunci laba setelah reli tajam. Namun, sentimen bullish masih bertahan setelah Washington memperketat sanksi terhadap ekspor minyak Iran dan memperluas operasi militer di kawasan. Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS mencabut izin umum yang memungkinkan penjualan minyak Iran, menyusul serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Transaksi yang telah mendapat otorisasi sebelumnya masih diberi masa tenggang hingga 17 Juli.
Eskalasi militer kian nyata setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan udara terhadap sekitar 90 sasaran di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, aset pengawasan pesisir, gudang rudal dan drone, serta infrastruktur logistik militer. Pada gelombang pertama 7 Juli, sebanyak 80 target telah dihancurkan, di antaranya lebih dari 60 kapal cepat milik IRGC. Iran merespons dengan ancaman balasan keras. Ebrahim Azizi, ketua komisi keamanan nasional parlemen Iran, menyatakan AS harus bersiap menerima “tanggapan yang menghancurkan” dan memperingatkan bahwa warga Amerika “tidak akan aman di mana pun di dunia.”
Israel pun meningkatkan kewaspadaan militernya. Media lokal melaporkan bahwa militer Israel telah memperkuat sistem pertahanan udara dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan serangan balasan dari Iran atau kelompok Hizbullah di Lebanon. Para analis menilai bahwa ketegangan di Selat Hormuz dan konfrontasi militer langsung antara AS dan Iran telah menaikkan premi risiko geopolitik di pasar minyak global, sehingga harga tetap tertopang meskipun terjadi koreksi jangka pendek.
Di sisi lain, ekspektasi kebijakan moneter The Fed turut membayangi pergerakan harga. Risalah rapat terbaru The Fed yang dirilis Rabu menunjukkan sebagian besar pejabat meyakini kenaikan suku bunga lanjutan mungkin diperlukan jika inflasi tetap tinggi akibat permintaan yang kuat—didorong oleh kecerdasan buatan, konflik Timur Tengah yang berkepanjangan, atau dampak tarif. Kekhawatiran bahwa pengetatan moneter akan memperlambat aktivitas ekonomi dan melemahkan permintaan bahan bakar terus membatasi ruang kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Kenaikan harga minyak yang tajam dapat memperlebar beban subsidi BBM dan listrik, sementara potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah mengingatkan kembali pentingnya diversifikasi sumber impor minyak. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini dalam menyusun asumsi makro APBN 2025, terutama jika ketegangan AS-Iran belum mereda dalam waktu dekat.
Ke depan, pasar akan terus memantau dua variabel utama: intensitas konflik militer di Teluk Persia dan sinyal kebijakan suku bunga The Fed. Jika serangan balasan Iran benar-benar terjadi dan mengganggu navigasi di Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—lonjakan harga bisa kembali terjadi. Sebaliknya, jika gencatan senjata atau diplomasi mencuat, koreksi harga berpotensi berlanjut. Pertanyaan besarnya: sejauh mana eskalasi ini akan berlangsung sebelum kedua pihak kembali ke meja perundingan?



