Serangan Brutal di Balochistan: 9 Polisi Tewas, Pakistan Kembali Berdarah
Baca dalam 60 detik
- Kelompok bersenjata menyerang pos polisi yang mengamankan proyek bendungan Mangi di Ziarat, menewaskan sembilan aparat termasuk dua perwira senior.
- Pakistan melancarkan operasi balasan yang menewaskan 15 anggota Tehrik-i-Taliban Pakistan, sementara belum ada kelompok yang mengklaim serangan awal.
- Insiden ini mempertegas kerentanan keamanan di Balochistan, provinsi yang rawan separatisme dan menjadi titik rawan konflik regional yang berdampak pada stabilitas Asia Selatan.

Pakistan kembali berduka. Serangan bersenjata di Provinsi Balochistan, barat daya Pakistan, menewaskan sedikitnya sembilan personel kepolisian dan menyebabkan beberapa lainnya hilang. Insiden ini terjadi saat para aparat tengah mengamankan proyek pembangunan Bendungan Mangi di Distrik Ziarat, sebuah kawasan yang dikenal rawan konflik.
Deputi Komisaris Ziarat, Abdul Quddus Achakzai, mengonfirmasi bahwa dua perwira senior termasuk dalam korban jiwa. Hingga kini, operasi pencarian masih dilakukan untuk menemukan personel yang belum diketahui nasibnya. Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun militer Pakistan bergerak cepat dengan melancarkan operasi pembersihan yang menewaskan 15 anggota Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP).
Serangan ini memicu gelombang protes di jalan raya nasional dekat lokasi kejadian. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, mengecam keras aksi tersebut dan menyebut para polisi yang gugur sebagai "kebanggaan bangsa". Pernyataan itu mencerminkan betapa besarnya dampak psikologis dari serangan terhadap institusi keamanan yang tengah berjuang melawan ancaman militan dan separatisme.
Bendungan Mangi sendiri merupakan proyek strategis yang diharapkan mampu mengatasi kekurangan air yang kronis di ibu kota provinsi, Quetta. Namun, pembangunan infrastruktur di Balochistan kerap menjadi sasaran serangan karena dianggap sebagai simbol dominasi pemerintah pusat oleh kelompok separatis. Provinsi yang berbatasan dengan Afghanistan dan Iran ini telah lama menjadi sarang ketidakstabilan, dengan kelompok seperti Tentara Pembebasan Balochistan (BLA) kerap melancarkan aksi kekerasan.
Konteks regional semakin memperumit situasi. Pada Mei lalu, serangan terhadap kereta yang membawa personel militer Pakistan menewaskan 20 orang, yang dikaitkan dengan BLA. Sementara itu, ketegangan lintas batas dengan Afghanistan juga meningkat. Pekan lalu, rezim Taliban Afghanistan mengklaim telah melancarkan serangan di wilayah tersebut, dan militer Pakistan melaporkan menembak jatuh empat drone.
Bagi Indonesia, eskalasi kekerasan di Balochistan patut dicermati. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia memiliki kepentingan dalam stabilitas kawasan Asia Selatan. Ketidakstabilan di Pakistan dapat memicu gelombang pengungsi, memperkuat jaringan teroris transnasional, dan mengganggu jalur perdagangan regional. Selain itu, proyek-proyek infrastruktur yang melibatkan investor asing, termasuk kemungkinan dari Indonesia, menjadi lebih berisiko.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Pakistan mampu memutus rantai kekerasan yang telah berlangsung puluhan tahun di Balochistan, atau justru spiral konflik akan semakin dalam dengan keterlibatan aktor-aktor regional? Jawabannya tidak hanya menentukan masa depan provinsi yang kaya sumber daya ini, tetapi juga stabilitas kawasan yang lebih luas.



