IHSG Merosot 34,74%, 11 Perusahaan Justru Antre IPO: Optimisme di Tengah Tekanan
Baca dalam 60 detik
- OJK mencatat 11 perusahaan masih dalam pipeline IPO hingga akhir Juni 2026, meskipun IHSG anjlok 34,74% year-to-date.
- Total dana yang dihimpun korporasi di pasar modal mencapai Rp112,67 triliun sepanjang tahun ini, menunjukkan minat yang tetap tinggi.
- Tekanan pasar dipicu ketidakpastian global dan rebalancing portofolio investor, namun OJK melihat tanda-tanda peredaan di awal Juli 2026.

Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 34,74% secara year-to-date, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa masih ada 11 perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) hingga akhir Juni 2026. Fenomena ini menunjukkan bahwa optimisme terhadap pasar modal Indonesia belum sepenuhnya padam, meskipun tekanan global dan domestik terus membayangi.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa aktivitas penghimpunan dana di pasar modal tetap positif. Hingga pertengahan tahun ini, nilai fundraising yang berhasil dikumpulkan oleh korporasi mencapai Rp112,67 triliun. Angka ini mencerminkan kepercayaan emiten terhadap prospek jangka panjang, meskipun IHSG sedang tertekan di level 5.643,19.
Selain IPO, instrumen lain seperti Securities Crowdfunding (SCF) juga mencatatkan dana terkumpul sebesar Rp1,98 triliun. Sementara itu, volume transaksi di pasar keuangan derivatif mencapai 235.343 lot. Di bursa karbon, yang relatif baru, tercatat 155 pengguna jasa dengan volume transaksi 1,98 juta ton CO2 equivalent, setara nilai Rp93,81 miliar. Data ini menunjukkan diversifikasi instrumen investasi yang mulai diminati.
Menurut Hasan Fawzi, kondisi pasar saat ini masih dalam fase konsolidasi. Pelemahan IHSG dipicu oleh ketidakpastian global yang berlanjut, persepsi investor terhadap kebijakan domestik, serta rebalancing portofolio investor institusional. Namun, ia menambahkan bahwa tekanan mulai mereda pada awal Juli 2026. OJK akan terus memantau perkembangan dan memastikan likuiditas pasar tetap terjaga.
Bagi investor Indonesia, situasi ini menghadirkan dilema. Di satu sisi, pelemahan IHSG membuka peluang akumulasi saham dengan valuasi murah. Di sisi lain, ketidakpastian globalโseperti kebijakan suku bunga bank sentral AS dan perlambatan ekonomi Chinaโmasih menjadi risiko. Antrean 11 perusahaan IPO menunjukkan bahwa emiten melihat momentum ini sebagai kesempatan untuk menggalang dana, meskipun sentimen pasar sedang lesu.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah IHSG mampu bangkit kembali seiring meredanya tekanan global, atau justru semakin tertekan jika kondisi ekonomi memburuk. OJK menggarisbawahi pentingnya resiliensi pasar modal domestik, yang tercermin dari RNTH yang masih di atas Rp20 triliun per hari. Namun, investor perlu mencermati fundamental emiten dan prospek sektor masing-masing sebelum mengambil keputusan.



