Bryan Adams Balas Trump Lewat Lagu '51st State': Kanada Tak Akan Jadi Negara Bagian AS
Baca dalam 60 detik
- Musisi legendaris Kanada Bryan Adams merilis lagu protes berjudul '51st State' sebagai respons terhadap pernyataan Donald Trump yang menyebut Kanada bisa menjadi negara bagian AS.
- Lirik lagu menolak keras gagasan aneksasi dan tarif dagang, menegaskan harga diri dan kedaulatan Kanada di tengah tekanan politik dari Washington.
- Karya ini menjadi pengingat bahwa sentimen nasionalisme budaya bisa menjadi alat perlawanan terhadap dominasi politik, relevan pula bagi negara-negara seperti Indonesia.

Bryan Adams, ikon rock asal Kanada, meluncurkan lagu baru berjudul '51st State' yang secara terang-terangan mengecam pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang kemungkinan Kanada menjadi negara bagian Amerika Serikat. Lagu ini menjadi bentuk perlawanan artistik terhadap tekanan politik dan ekonomi yang datang dari Gedung Putih.
Dalam lagu yang dirilis pekan ini, Adams menyuarakan penolakan keras terhadap wacana aneksasi yang dilontarkan Trump, terutama saat hubungan bilateral kedua negara tengah memanas akibat ancaman tarif impor. Melodi rock khas era 80-an yang dibawakan Adams justru menjadi medium untuk menyampaikan pesan politik yang tajam.
Salah satu bait yang paling menonjol berbunyi: "Kami jauh lebih baik bergandengan tangan / Tapi paralel ke-49 / Telah menjadi garis yang digambar di pasir / Biar kukatakan langsung / Saat kau bicara tentang rumahku / Kau harus tunjukkan rasa hormat / Karena di sini kami menjaga milik kami sendiri." Lirik ini menegaskan bahwa Kanada tidak akan tunduk pada tekanan sepihak.
Adams menegaskan bahwa lagu ini lahir dari kecintaannya pada tanah air. "Saya ingin menulis sesuatu tentang Kanada karena Kanada adalah rumah. Ada lebih banyak hal yang mengikat kita daripada yang memisahkan kita. Ini adalah penghormatan untuk kebanggaan dan semangat sesama warga Kanadaโsisanya hanya kebisingan," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Bagi pengamat hubungan internasional, langkah Adams ini menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi alat diplomasi non-formal. Di Indonesia, fenomena serupa kerap muncul ketika musisi seperti Iwan Fals atau Slank menggunakan lagu untuk mengkritik kebijakan pemerintah. Namun, kasus Adams kali ini unik karena menyasar langsung kepala negara asing, bukan sekadar kritik domestik.
Menariknya, ini bukan pertama kalinya Adams merespons isu politik lewat musik. Tahun lalu, ia merilis 'Roll With The Punches' yang meski tidak secara eksplisit politis, tetap relevan dengan situasi tarif yang mengancam. "Ini bukan hanya soal Kanada, tampaknya seluruh dunia merasakan hal yang sama. Mungkin lagu itu tepat waktu karena banyak tendangan dan pukulan politik yang terjadi," kata Adams saat itu.
Langkah Adams mendapat dukungan luas dari warganet Kanada dan internasional. Banyak yang menilai bahwa di tengah dominasi politik AS, suara seperti Adams penting untuk menjaga martabat negara kecil. Pertanyaan besarnya, akankah Trump menanggapi lagu ini? Atau justru akan memicu gelombang protes serupa dari musisi negara lain?



