Harga Minyak Menguat Tipis Usai Anjlok 3%, Pasar Cermati Nasib Kesepakatan AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Kontrak Brent naik 0,27% ke US$78,11 per barel setelah tertekan lebih dari 3% pada sesi sebelumnya.
- Relaksasi sanksi AS ke Iran selama 60 hari dan meredanya ketegangan di Lebanon menjadi katalis utama pemulihan harga.
- Penurunan cadangan strategis AS ke level terendah sejak 1983 menambah kekhawatiran pasokan di tengah ketidakpastian kesepakatan.

Harga minyak dunia mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Selasa pagi, setelah sehari sebelumnya ambles lebih dari 3% akibat meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kontrak Brent naik 0,27% ke US$78,11 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,45% ke US$74,16 per barel, berdasarkan data Refinitif hingga pukul 10.15 WIB.
Pergerakan ini merupakan koreksi teknis setelah tekanan jual besar-besaran pada Senin. Saat itu, pasar merespons positif perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk pemberian keringanan sanksi selama 60 hari oleh Washington dan meredanya konflik di Lebanon. Namun, pelaku pasar masih menyimpan skeptisisme terhadap implementasi kesepakatan yang belum teruji sepenuhnya.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran akan menyetujui inspeksi senjata untuk memastikan kepatuhan terhadap komitmen nuklir. Trump juga mengancam akan mengambil tindakan jika Teheran melanggar kesepakatan. Pernyataan ini menimbulkan keraguan di kalangan investor, mengingat hubungan kedua negara yang sarat ketidakpercayaan.
Fokus utama pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Pekan lalu, ancaman penutupan selat tersebut sempat memicu lonjakan premi risiko. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas mulai pulih. Dua kapal tanker yang membawa hampir 2 juta barel minyak tercatat melintasi Selat Hormuz pada Senin, memberi sinyal bahwa arus pengiriman perlahan kembali normal setelah sempat melemah sehari sebelumnya.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai pasar masih menyimpan keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan Washington-Teheran. Menurutnya, tingkat kepercayaan yang rendah antara kedua negara membuat harga minyak sulit kembali ke level sebelum konflik dalam waktu singkat. Investor masih menunggu bukti nyata bahwa kesepakatan dapat bertahan dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz benar-benar pulih.
Dari sisi fundamental, Departemen Energi AS melaporkan cadangan minyak di Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun menjadi 331,2 juta barel pada pekan lalu. Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak Juni 1983. Penurunan stok strategis terjadi ketika pasokan energi global masih menyesuaikan dampak konflik AS-Iran yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Konteks Indonesia: Fluktuasi harga minyak dunia berdampak langsung pada anggaran subsidi energi Indonesia. Setiap kenaikan US$1 per barel diperkirakan menambah beban subsidi BBM dan LPG hingga triliunan rupiah. Pemerintah perlu mencermati perkembangan kesepakatan AS-Iran dan stabilitas Selat Hormuz, karena Indonesia masih mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah. Jika kesepakatan gagal dan harga kembali meroket, tekanan terhadap APBN dan inflasi domestik akan meningkat.
Ke depan, pasar akan fokus pada perkembangan implementasi kesepakatan AS-Iran, terutama terkait inspeksi senjata dan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Jika kesepakatan berjalan mulus, harga minyak berpotensi turun lebih lanjut. Namun, jika terjadi pelanggaran atau ketegangan baru, lonjakan harga bisa kembali terjadi. Pertanyaan besarnya: akankah diplomasi ini bertahan cukup lama untuk menstabilkan pasar energi global?



