Rapat 4 Jam di Istana, Prabowo Perintahkan Bank BUMN Tak Hanya Kejar Laba
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat maraton dengan direksi dan komisaris bank Himbara, menekankan peran sosial perbankan negara di luar profit.
- Valuasi gabungan bank plat merah mencapai Rp1.100 triliun atau 10% dari kapitalisasi pasar Indonesia, menjadi perhatian utama dalam pertemuan.
- Tidak ada instruksi untuk menahan suku bunga kredit meskipun BI baru menaikkan suku bunga acuan, namun kredit UMKM tetap didorong.

Presiden Prabowo Subianto memanggil seluruh jajaran direksi dan komisaris bank BUMN dalam sebuah rapat yang berlangsung lebih dari empat jam di Istana Negara, Kamis (18/6/2026). Pertemuan yang dimulai pukul 15.00 WIB hingga 19.22 WIB itu bukan sekadar agenda rutin, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah ingin perbankan plat merah bergerak lebih dari sekadar mesin pencetak laba.
CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani mengungkapkan, pesan utama Presiden adalah agar bank-bank milik negara benar-benar dirasakan kehadirannya oleh masyarakat. "Bukan hanya mengejar profit, tetapi juga memberikan fasilitas bagi UMKM, komersial, hingga korporasi," ujar Rosan usai rapat. Arahan ini menjadi penegasan bahwa perbankan BUMN harus menjalankan fungsi sosial tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Salah satu momen menarik dalam rapat adalah ketika Presiden menanyakan valuasi masing-masing bank Himbara. Rosan membeberkan, Bank Mandiri memiliki nilai pasar sekitar Rp450 triliun, BRI sedikit di atas angka tersebut, BNI hampir Rp200 triliun, ditambah BSI dan BTN. Total valuasi kelima bank itu mencapai Rp1.100 triliun, setara dengan 10% dari seluruh kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia. Angka ini menjadi pengingat betapa besarnya peran bank BUMN dalam perekonomian nasional.
Menurut Rosan, Presiden menekankan bahwa perbankan harus menjalankan bisnis secara prudent, namun tetap berdampak luas. Perhatian khusus diberikan pada sektor UMKM yang selama ini kerap kesulitan mengakses kredit dengan bunga rendah dibandingkan korporasi besar. "Himbara harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia dengan diberikan kesempatan yang sama," tegasnya.
Di sisi makro, Presiden juga menyoroti perbaikan ekonomi global, terutama dampak kesepakatan antara Presiden AS Donald Trump dengan Iran yang mendorong harga minyak turun di bawah US$80 per barel. Hal ini dinilai sebagai sentimen positif bagi perekonomian Indonesia. Rapat tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan CIO BIP Danantara Pandu Sjahrir.
Menariknya, meskipun Bank Indonesia pada hari yang sama menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75%, Rosan memastikan tidak ada arahan dari Presiden untuk menahan suku bunga kredit. "Tidak ada, tidak ada arahan," katanya. Pandu Sjahrir menambahkan bahwa diskusi lebih bersifat filosofis tentang arah Indonesia ke depan. Airlangga Hartarto pun hanya berharap agar kredit tetap berjalan seperti biasa.
Pertemuan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin bank BUMN tidak hanya menjadi pemain dominan di bursa, tetapi juga menjadi ujung tombak pemerataan ekonomi. Pertanyaannya, apakah dorongan untuk lebih berpihak pada UMKM ini akan diimbangi dengan kebijakan kredit yang longgar tanpa mengorbankan kesehatan fundamental perbankan? Jawabannya akan terlihat pada kinerja kuartal mendatang.



