Gelombang PHK Microsoft Hantam ZeniMax: Bethesda dan Studio di Bawahnya Terimbas
Baca dalam 60 detik
- Microsoft memulai pemutusan hubungan kerja di ZeniMax Media, induk Bethesda, yang menaungi studio pengembang gim besar seperti id Software dan Arkane.
- George Broussard, tokoh industri gim, menyebut skala PHK ini lebih dalam dari dugaan banyak pihak, menimbulkan kekhawatiran akan masa depan proyek-proyek unggulan.
- Dampak PHK berpotensi dirasakan di Indonesia melalui penundaan rilis gim, perubahan strategi pasar, dan ancaman bagi talenta lokal yang bekerja di studio terkait.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda divisi gim Microsoft kini merambah ke ZeniMax Media, perusahaan induk Bethesda Softworks. Langkah ini mengonfirmasi bahwa tak satu pun studio di bawah naungan raksasa teknologi itu luput dari efisiensi besar-besaran, meskipun Bethesda dikenal sebagai pengelola waralaba legendaris seperti The Elder Scrolls, Fallout, dan DOOM.
George Broussard, salah satu pendiri 3D Realms yang terkenal lewat Duke Nukem, menjadi sosok pertama yang membocorkan kabar ini. Melalui akun media sosialnya, ia menulis bahwa PHK di ZeniMax telah dimulai dan potensi pengurangan tenaga kerja jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. “Dengar kabar PHK di ZeniMax sudah mulai. Ada desas-desus bahwa pemotongannya bisa jauh lebih dalam dari yang Anda bayangkan. Bersiaplah!” tulis Broussard pada 17 Juni 2026.
ZeniMax Media tidak hanya menaungi Bethesda Game Studios (Fallout), tetapi juga id Software (DOOM), Arkane Studios (Deathloop), dan MachineGames (Wolfenstein). Dengan demikian, PHK ini berpotensi memengaruhi ribuan karyawan di berbagai studio yang tersebar di Amerika Serikat dan Eropa. Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi besar Microsoft di sektor gim, yang sebelumnya telah memangkas ribuan posisi di Activision Blizzard dan Xbox Game Studios.
Keputusan ini memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat industri. Di satu sisi, Microsoft tengah berupaya menekan biaya operasional setelah akuisisi besar-besaran. Di sisi lain, PHK di studio yang sedang menggarap proyek-proyek ambisius—seperti The Elder Scrolls VI dan Indiana Jones—dikhawatirkan akan menunda jadwal rilis dan menurunkan kualitas produksi. “Ini sinyal bahwa bahkan waralaba paling sukses pun tidak aman dari tekanan efisiensi,” ujar analis industri gim yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, dampak PHK ini bisa terasa dalam beberapa bentuk. Pertama, penundaan rilis gim-gim besar berarti konsumen lokal harus menunggu lebih lama untuk akses ke judul-judul baru. Kedua, perubahan strategi Microsoft dapat memengaruhi ketersediaan gim di layanan berlangganan seperti Xbox Game Pass, yang populer di kalangan gamer Indonesia. Ketiga, talenta Indonesia yang bekerja di studio-studio tersebut—baik sebagai karyawan tetap maupun kontraktor—berisiko kehilangan pekerjaan. Beberapa pengembang gim Tanah Air bahkan sempat terlibat dalam proyek outsourcing untuk Bethesda dan id Software.
Ke depan, publik menanti langkah resmi Microsoft mengenai detail PHK, termasuk jumlah karyawan yang terdampak dan studio mana yang paling terpukul. Pertanyaan besarnya: apakah efisiensi ini akan memperkuat posisi Microsoft di industri gim, atau justru mengorbankan inovasi yang selama ini menjadi ciri khas Bethesda? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, saat proyek-proyek yang tertunda mulai menunjukkan hasilnya.



