Sikap Hawkish The Fed Guncang Wall Street, Bursa Eropa Justru Menguat
Baca dalam 60 detik
- Bank sentral AS mempertahankan suku bunga namun memberi sinyal kenaikan lanjutan, memicu aksi jual di bursa Amerika.
- Eropa berhasil membalikkan sentimen negatif berkat penurunan harga energi dan optimisme kesepakatan damai AS-Iran.
- Bursa Asia dan Afrika Selatan tertekan oleh prospek suku bunga tinggi, sementara saham semikonduktor Jepang justru melesat.

Pasar keuangan global bergerak tidak seragam pada perdagangan Rabu hingga Kamis pagi, setelah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan namun menyiratkan sikap hawkish yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Keputusan itu langsung menekan indeks utama Wall Street, sementara bursa Eropa justru mencatat penguatan tipis.
Indeks S&P 500 ditutup turun 1,21 persen, Nasdaq ambles 1,34 persen, dan Dow Jones kehilangan 0,98 persen. Pergerakan ini dipicu oleh pernyataan para pejabat The Fed yang mengkhawatirkan tekanan inflasi yang masih tinggi. Di sisi lain, bursa Eropa seperti FTSE 100 naik 0,14 persen dan Euro Stoxx 50 menguat 0,68 persen, ditopang oleh penurunan harga energi menyusul progres negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
Sentimen negatif dari Wall Street menjalar ke bursa Asia pada Kamis pagi. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,70 persen, sementara ASX 200 Australia turun 0,38 persen. Namun, Nikkei 225 Jepang justru melesat 1,87 persen berkat aksi beli saham-saham semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) yang tengah menjadi primadona investor global. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar Asia masih terpecah antara kekhawatiran suku bunga tinggi dan optimisme sektor teknologi.
Bursa Afrika Selatan (JSE) diperkirakan akan dibuka hati-hati pada Kamis, setelah sebelumnya mencatat volatilitas tinggi pada sesi Rabu. Indeks All Share dan Top 40 masing-masing naik 0,41 persen dan 0,46 persen, ditopang oleh sektor keuangan yang melonjak 1,37 persen. Saham Standard Bank dan FirstRand menjadi motor penggerak dengan kenaikan masing-masing 2,25 persen dan 2,18 persen. Namun, sektor industri justru tertekan 0,97 persen akibat koreksi saham Naspers dan Prosus yang masing-masing turun 2,65 persen dan 2,36 persen, sejalan dengan pelemahan saham induknya, Tencent, di Hong Kong.
Bagi Indonesia, dinamika ini memberikan sinyal waspada. Suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi memperkuat dolar dan menekan nilai tukar rupiah, serta memicu arus modal keluar dari pasar obligasi dan saham domestik. Di sisi lain, penurunan harga energi akibat meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah bisa menjadi angin segar bagi neraca perdagangan Indonesia, terutama jika harga minyak bumi dan gas ikut turun. Investor domestik perlu mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan suku bunga acuan di tengah ketidakpastian global ini.
Ke depan, pasar akan terus memantau data inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed untuk mengonfirmasi arah kebijakan moneter. Jika sinyal kenaikan suku bunga semakin kuat, bukan tidak mungkin tekanan jual di pasar saham global akan berlanjut, termasuk di Indonesia. Namun, perkembangan positif di Eropa dan sektor teknologi Asia bisa menjadi penyeimbang yang menarik minat investor pada aset berisiko.



