Stress Test BI: Perbankan RI Tetap Kokoh di Tengah Gejolak Global
Baca dalam 60 detik
- Hasil uji ketahanan Bank Indonesia mengonfirmasi sektor perbankan nasional masih solid meski ada tekanan dari konflik Timur Tengah.
- Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan mencapai 23,97% pada April 2026, jauh di atas ambang aman, sementara kredit bermasalah tetap rendah.
- Pertumbuhan kredit Mei 2026 melesat 11,51% year-on-year, didorong kredit investasi dan modal kerja, mengindikasikan optimismenya dunia usaha.

Bank Indonesia (BI) memastikan sektor perbankan tanah air masih memiliki daya tahan yang solid terhadap berbagai risiko, termasuk dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini terungkap dalam hasil uji ketahanan (stress test) yang dipaparkan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur, Kamis (18/6/2026).
Menurut Perry, likuiditas perbankan tercukupi, permodalan berada di level yang aman, dan risiko kredit tetap terkendali. โKetahanan perbankan tetap kuat untuk memitigasi risiko dampak dari perang di Timur Tengah,โ ujarnya. Pernyataan ini memberikan sinyal positif bagi investor dan pelaku pasar bahwa sistem keuangan domestik tidak mudah goyah oleh gejolak eksternal.
Lebih lanjut, BI mencatat rasio kredit bermasalah (NPL) secara agregat tetap rendah, yaitu 2,17% secara bruto dan 0,84% secara neto pada April 2026. Angka ini menunjukkan bahwa kualitas aset perbankan masih terjaga, sehingga risiko kredit macet tidak mengkhawatirkan. Di sisi lain, pertumbuhan kredit justru menunjukkan akselerasi. Pada Mei 2026, penyaluran kredit tumbuh 11,51% year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,98% (yoy).
Perry merinci bahwa kredit investasi menjadi motor utama dengan pertumbuhan 21,95% (yoy), disusul kredit modal kerja sebesar 8,09% (yoy), dan kredit konsumsi sebesar 5,89% (yoy). Lonjakan kredit investasi mencerminkan optimisme pelaku usaha untuk memperluas kapasitas produksi, sejalan dengan prospek ekonomi nasional yang diperkirakan tetap tumbuh positif.
Untuk tahun 2026 secara penuh, BI memproyeksikan pertumbuhan kredit berada di kisaran 8โ12%. Proyeksi ini didukung oleh masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum ditarik (undisbursed loan) senilai Rp2.576 triliun, atau setara 22,41% dari total plafon kredit yang tersedia. Selain itu, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) tercatat 24,74%, dan dana pihak ketiga (DPK) masih tumbuh tinggi sebesar 13,47% (yoy) pada Mei 2026. Artinya, perbankan memiliki ruang yang cukup untuk terus mengucurkan kredit tanpa mengorbankan likuiditas.
Dari sisi suku bunga, BI mencatat suku bunga kredit pada Mei 2026 sebesar 8,72%, sementara suku bunga deposito 1 bulan berada di level 4,26%. Selisih yang cukup lebar ini memberikan margin bunga yang sehat bagi bank, sekaligus menjadi insentif bagi masyarakat untuk menabung. Perry berharap perkembangan suku bunga ini semakin mendorong pertumbuhan kredit ke depan.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, hasil stress test ini menegaskan bahwa perbankan nasional berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi ketidakpastian global. Dengan CAR yang tinggi, NPL yang rendah, dan pertumbuhan kredit yang solid, sektor perbankan diyakini mampu menjadi bantalan stabilitas ekonomi. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah momentum ini dapat bertahan jika konflik Timur Tengah semakin meluas atau suku bunga global kembali naik? BI tampaknya optimistis, namun tetap waspada dengan memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).



