Jeffrey Hendrik Resmi Pimpin BEI 2026-2030: Eks Sekuritas dengan Misi Pengembangan Pasar
Baca dalam 60 detik
- OJK menyetujui Jeffrey Hendrik sebagai Dirut BEI periode 2026-2030, menggantikan Iman Rachman yang mundur.
- Sebelumnya, Jeffrey menjabat PJS Dirut dan Direktur Pengembangan BEI, dengan latar belakang 23 tahun di Phintraco Sekuritas.
- Pengangkatan resmi akan dilakukan dalam RUPST pada 29 Juni 2026, menandai era baru kepemimpinan bursa.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan lampu hijau bagi Jeffrey Hendrik untuk memimpin Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam periode 2026 hingga 2030, sebuah keputusan yang diharapkan membawa angin segar bagi pengembangan pasar modal nasional. Izin tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, yang menyatakan bahwa proses selanjutnya tinggal menunggu pengesahan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 29 Juni 2026.
Jeffrey Hendrik bukanlah wajah baru di lingkungan bursa. Sejak Juni 2022, ia menjabat sebagai Direktur Pengembangan BEI, dan baru-baru ini ditunjuk sebagai Penjabat Sementara (PJS) Direktur Utama setelah Iman Rachman mengundurkan diri. Dengan latar belakang lebih dari dua dekade di industri sekuritas, Jeffrey dinilai memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika pasar dan kebutuhan investor.
Karier pria kelahiran 1970 ini dimulai di PT Zone Pratama pada 1994, kemudian merambah ke corporate finance di PT Transpacific Securindo. Puncak kariernya di sektor swasta adalah sebagai Presiden Direktur PT Phintraco Sekuritas, posisi yang diembannya selama 23 tahun sebelum bergabung dengan jajaran direksi BEI. Pengalaman panjang ini memberinya perspektif unik tentang tantangan yang dihadapi pelaku pasar.
Di luar peran eksekutif, Jeffrey juga aktif dalam berbagai organisasi dan komite strategis. Ia pernah menjadi anggota Komite Perdagangan Efek dan Penyelesaian Transaksi BEI (2019-2020), pengurus Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Bidang Perdagangan Efek (2020-2022), serta anggota Satuan Tugas Keuangan Berkelanjutan OJK sejak 2021. Keterlibatan ini menunjukkan komitmennya terhadap tata kelola dan keberlanjutan pasar modal.
Bagi investor Indonesia, kepemimpinan baru di BEI membawa harapan akan akselerasi inovasi produk dan peningkatan likuiditas. Jeffrey dikenal memiliki visi untuk memperkuat peran bursa sebagai motor penggerak ekonomi nasional, terutama dalam mendorong lebih banyak perusahaan rintisan melantai di bursa. Dengan latar belakangnya di bidang pengembangan, ia diharapkan mampu menghadirkan terobosan yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
Pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana Jeffrey akan menavigasi tekanan global dan domestik, mulai dari fluktuasi nilai tukar hingga persaingan dengan bursa regional. RUPST pada akhir Juni nanti akan menjadi panggung pertama bagi arah kebijakan barunya.



