Van der Vaart Minta Maaf Usai Umpan Rasis ke Pemain Jepang: 'Mereka Semua Mirip'
Baca dalam 60 detik
- Mantan gelandang Tottenham, Rafael van der Vaart, menyebut pemain Jepang 'semua mirip' saat menjadi komentator laga Belanda vs Jepang.
- Pernyataan itu menuai kecaman dari organisasi anti-diskriminasi Kick It Out dan Frank Soo Foundation.
- Van der Vaart meminta maaf, namun insiden ini kembali menyoroti stereotip rasial di sepak bola global.

Rafael van der Vaart, mantan bintang Timnas Belanda, secara resmi meminta maaf setelah melontarkan komentar bernada rasis saat menjadi komentator pertandingan persahabatan antara Belanda dan Jepang yang berakhir imbang 2-2. Dalam analisisnya, ia menyebut para pemain Jepang "semua mirip", memicu gelombang kritik dari berbagai pihak.
Insiden terjadi ketika Van der Vaart, yang kini berusia 43 tahun, bekerja untuk stasiun televisi NOS TV. Saat menganalisis kegagalan bek Belanda Micky van de Ven dalam mengawal pergerakan Koki Ogawa yang mencetak gol penyeimbang, ia berkomentar, "Mereka semua mirip, tentu saja, mungkin dia (Van de Ven) berpikir begitu." Ucapan ini langsung menuai reaksi keras dari publik dan organisasi anti-diskriminasi.
Van der Vaart, yang pernah membela Belanda dalam 109 pertandingan dan tampil di final Piala Dunia 2010, menyadari kesalahannya. Dalam pernyataan permintaan maafnya, ia menegaskan tidak bermaksud menyinggung, menyakiti, atau mendiskriminasi siapa pun. "Saya menentang rasisme dalam segala bentuk dan menghormati orang dari semua latar belakang, etnis, dan budaya. Saya memahami bahwa beberapa orang mungkin menganggap kata-kata saya ofensif atau menyakitkan. Saya sangat menyesalinya," ujarnya.
Organisasi anti-diskriminasi Kick It Out bersama Frank Soo Foundation—yang mendukung komunitas Asia Timur dan Asia Tenggara—mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka menyayangkan mantan pemain yang masih melontarkan stereotip rasis tentang tim Jepang dan kemudian mencoba membela diri dengan menyebutnya sebagai lelucon. "Meskipun dia mengklaim tidak ada niat rasis, komentar itu tetap berdampak pada mereka yang terlibat dan komunitas Asia Timur dan Asia Tenggara secara luas, seperti yang telah kita lihat pada contoh sebelumnya yang ditujukan kepada pemain," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Mereka juga mengingatkan bahwa Piala Dunia menarik perhatian penonton global yang sangat besar, sehingga penting bagi para komentator untuk berhati-hati dalam menggunakan bahasa. "Penyiar harus bertanggung jawab atas siapa pun yang tampil di acara mereka, baik melalui pendidikan tambahan atau pelatihan," tambah mereka.
Insiden ini kembali membuka diskusi tentang stereotip rasial di sepak bola, terutama menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dengan semakin beragamnya pemain dan penonton, komentar semacam ini dinilai tidak hanya merusak citra individu, tetapi juga memperkuat prasangka yang sudah lama ada. Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, yang memiliki ikatan kuat dengan budaya Jepang dan Asia Timur, pernyataan Van der Vaart tentu terasa tidak sensitif dan mengingatkan pada pentingnya edukasi keberagaman di dunia olahraga.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah insiden ini akan mendorong perubahan nyata dalam cara stasiun televisi memilih dan melatih komentator mereka? Ataukah ini hanya akan menjadi satu lagi contoh permintaan maaf yang terlupakan begitu saja?



