Anthony Kartono Tan Mundur dari Direksi MBMA, Saham Tertekan?
Baca dalam 60 detik
- Anthony Kartono Tan, anak pendiri Provident Capital, resmi mundur dari jabatan Direktur MBMA per 15 Juni 2026.
- Keputusan ini masih menunggu RUPS, namun menimbulkan spekulasi soal arah strategis perusahaan baterai nikel tersebut.
- Investor mencermati apakah langkah ini bagian dari suksesi atau sinyal perubahan haluan bisnis di tengah tekanan harga nikel global.

PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) kehilangan satu direktur kunci di tengah gejolak industri nikel global. Anthony Kartono Tan, putra dari pendiri Provident Capital Indonesia, resmi mengajukan surat pengunduran diri dari kursi direksi perusahaan pada 15 Juni 2026, sebagaimana tercantum dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.
Manajemen MBMA menyatakan bahwa proses pengunduran diri ini masih harus melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebelum dinyatakan efektif. Meski demikian, langkah mendadak ini langsung menyita perhatian pelaku pasar, mengingat Anthony baru menjabat sebagai direktur sejak 6 Desember 2024 โ tidak genap dua tahun. Masa jabatannya yang singkat memicu spekulasi mengenai alasan di balik keputusannya, terutama di saat industri baterai kendaraan listrik tengah memasuki fase konsolidasi.
Anthony bukanlah figur sembarangan. Ia merupakan alumni Warwick Business School dan sempat mengasah kemampuan di Goldman Sachs serta Lee Family Office. Latar belakangnya di bidang manajemen investasi dan hubungan pemangku kepentingan dianggap strategis bagi MBMA yang tengah gencar mengembangkan proyek pengolahan nikel kelas satu. Hubungannya dengan Provident Capital โ pemegang saham utama MBMA โ juga membuat perannya dinilai vital dalam menjembatani kepentingan investor dan manajemen.
Konteks domestik menjadi penting di sini. MBMA merupakan salah satu pemain utama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik di Indonesia, dengan proyek-proyek strategis di kawasan industri Morowali dan Weda Bay. Di tengah tekanan harga nikel yang masih lesu dan persaingan ketat dari produsen China, setiap perubahan di jajaran direksi berpotensi memengaruhi kepercayaan investor. Analis menilai bahwa pengunduran diri Anthony bisa diartikan sebagai langkah normalisasi struktur manajemen, namun tak menutup kemungkinan adanya perbedaan pandangan strategis dengan dewan komisaris.
Ke depan, publik akan menanti hasil RUPS yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Apakah posisi yang ditinggalkan Anthony akan diisi oleh figur internal atau eksternal? Dan apakah langkah ini akan memicu perubahan arah bisnis MBMA, terutama dalam hal ekspansi dan pendanaan? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi krusial bagi investor yang selama ini menjadikan MBMA sebagai salah satu saham pilihan di sektor baterai.



