Mistik di Balik Sukses Bisnis Salim: Peramal Gunung Kawi yang Menentukan Langkah Sang Konglomerat
Baca dalam 60 detik
- Sudono Salim, pendiri Grup Salim, kerap meminta petunjuk peramal di Gunung Kawi sebelum mengambil keputusan bisnis besar, termasuk menunjuk Mochtar Riady mengelola BCA.
- Ritual menggoyang tabung bambu berisi lidi dan konsultasi dengan rahib menjadi bagian dari strategi pengambilan keputusan Salim, yang meyakini bahwa langkah mistik dapat menghindarkan kerugian.
- Kepercayaan pada feng shui dan ramalan mistik tidak hanya membentuk kesuksesan Salim Group, tetapi juga mengungkap sisi lain dari jejaring bisnis era Orde Baru yang jarang terekspos.

Di balik gemerlap kesuksesan Grup Salim yang menguasai berbagai sektor, mulai dari perbankan hingga industri makanan, tersembunyi cerita tentang sosok peramal di Gunung Kawi yang menjadi penasihat bisnis utama Sudono Salim atau Liem Sioe Liong. Keputusan monumental seperti menunjuk Mochtar Riady untuk mengelola Bank Central Asia (BCA) pada 1975 tidak lahir dari analisis ekonomi semata, melainkan dari petunjuk mistik yang dipercaya sang konglomerat.
Pertemuan Salim dan Riady di dalam pesawat menuju Hong Kong pada 1975 menjadi titik awal kerja sama yang mengubah peta perbankan nasional. Saat itu, Salim tengah mencari pengelola untuk tiga bank yang dimilikinya: Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan BCA. Riady, yang baru saja merencanakan pendirian bank baru, dinilai memiliki kemampuan yang tepat. Namun, keputusan final Salim untuk menggandeng Riady baru diambil setelah ia berkonsultasi dengan peramal di Gunung Kawi, Jawa Timur. "Sekembalinya dari Gunung Kawi, dengan keyakinan dia berkata bahwa 'aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mochtar'," demikian catatan Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2016).
Gunung Kawi, yang dikenal sebagai lokasi wisata religi dan spiritual, menjadi tempat rutin Salim untuk meminta petunjuk. Menurut buku Gunung Kawi: Fakta dan Mitos, Salim bolak-balik menempuh perjalanan tiga jam dari Surabaya ke Gunung Kawi tiga hingga lima kali setahun. Di kuil China di sana, ia berdiam diri dan melakukan ritual khusus, termasuk menggoyang tabung bambu berisi lidi hingga satu lidi keluar. Tulisan pada lidi itu kemudian ditafsirkan oleh rahib atau peramal. "Di kuil-kuil tempat dia bersembahyang, Liem sering mengandalkan cara-cara gaib untuk membantunya memutuskan langkah apa yang harus diambil," tulis Borsuk dan Chng.
Kepercayaan Salim pada hal mistik tidak terbatas pada keputusan personal. Pada 1968, saat mendirikan usaha bersama konglomerasi 'Gang of Four' yang berisi Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad, Salim bersikeras memulai dari ruangan kecil yang sesak dengan satu telepon, satu meja, dan dua kursi tanpa pendingin ruangan. Meski tidak nyaman, Salim ngotot karena ruangan itu dinilai memiliki feng shui yang baik. Hasilnya, bisnis mereka melesat. Bagi Salim, mengabaikan petunjuk peramal atau feng shui sama saja dengan mengambil risiko kerugian besar.
Kisah ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana konglomerat era Orde Baru membangun kerajaan bisnisnya. Di satu sisi, ada kalkulasi bisnis yang cermat, namun di sisi lain, faktor spiritual dan mistik memainkan peran penting. Bagi pembaca Indonesia, cerita ini mengingatkan bahwa di balik kesuksesan perusahaan besar seperti Grup Salim, terdapat lapisan budaya dan kepercayaan yang membentuk keputusan strategis. Pertanyaannya, apakah praktik serupa masih dilakukan oleh pengusaha modern saat ini, atau sudah sepenuhnya digantikan oleh data dan analisis rasional?



