Jepang Buka Negosiasi Kemitraan Ekonomi dengan Mercosur: Strategi Diversifikasi di Tengah Ketegangan Global
Baca dalam 60 detik
- Tokyo akan memulai perundingan perjanjian kemitraan ekonomi dengan blok Mercosur akhir bulan ini, menargetkan akses pasar dan pasokan mineral kritis.
- Langkah ini merupakan respons terhadap pembatasan ekspor rare earth oleh China, sekaligus upaya Jepang memperkuat rantai pasok dari kawasan kaya sumber daya.
- Kekhawatiran domestik terhadap dampak impor produk pertanian seperti daging sapi dan ayam menjadi tantangan yang harus diantisipasi pemerintah Jepang.

Jepang dan Brasil secara resmi mengumumkan dimulainya negosiasi perjanjian kemitraan ekonomi (EPA) dengan Mercosur, blok perdagangan Amerika Selatan, pada akhir bulan ini. Langkah ini diambil di tengah upaya Tokyo memperluas akses pasar dan mengurangi ketergantungan pada pasokan mineral kritis dari China yang belakangan menerapkan pembatasan ekspor.
Pengumuman tersebut disampaikan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dalam pertemuan di sela-sela KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis. Melalui kesepakatan dengan Mercosur—yang juga beranggotakan Argentina, Bolivia, Paraguay, dan Uruguay—Jepang berharap dapat memperluas pasar untuk produk otomotif dan barang manufaktur lainnya, sekaligus mengamankan pasokan mineral langka, energi, dan komoditas pertanian.
Wakil Sekretaris Kabinet Kei Sato mengutip pernyataan Takaichi yang menyebut Brasil sebagai "mitra global strategis yang memiliki nilai dan prinsip yang sama dengan Jepang." Sato menambahkan bahwa Mercosur adalah pasar pertumbuhan yang menarik dengan populasi sekitar 300 juta jiwa dan PDB gabungan sekitar 3 triliun dolar AS, serta kaya akan sumber daya mineral kritis, energi, dan produk agrikultur.
Brasil, sebagai ekonomi terbesar di kawasan, juga merupakan produsen minyak utama, menjadikan kawasan ini semakin penting bagi upaya Jepang mendiversifikasi rantai pasok dan pengadaan sumber daya. Langkah ini dipandang sebagai respons langsung terhadap pembatasan ekspor rare earth oleh China yang memicu kekhawatiran akan keamanan pasokan mineral strategis.
Namun, di dalam negeri Jepang, rencana ini mendapat sorotan dari sejumlah anggota parlemen Partai Demokrat Liberal yang berkuasa. Mereka memperingatkan bahwa peningkatan impor produk seperti daging sapi dan ayam berpotensi merugikan peternak lokal. Pemerintah Jepang mengaku sadar akan kekhawatiran tersebut dan berjanji akan melindungi sektor pertanian sensitif selama negosiasi berlangsung, seperti diungkapkan Sato.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai sesama negara di kawasan Indo-Pasifik dan mitra dagang penting Jepang, Indonesia perlu mencermati bagaimana Tokyo menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan tekanan geopolitik. Diversifikasi rantai pasok Jepang ke Amerika Selatan dapat mengurangi ketergantungan pada Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk komoditas tertentu. Di sisi lain, hal ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama bilateral dengan Jepang di sektor hilirisasi mineral kritis, mengingat Indonesia juga memiliki cadangan nikel dan bauksit yang signifikan.
Dalam pertemuan terpisah, Takaichi dan Presiden Prancis Emmanuel Macron sepakat memperdalam kerja sama di bidang keamanan ekonomi, mineral kritis, dan teknologi canggih. Keduanya juga membahas tantangan keamanan di Indo-Pasifik, termasuk China, serta menekankan pentingnya denuklirisasi Korea Utara dan penyelesaian masalah penculikan warga Jepang.
Ke depan, negosiasi Jepang-Mercosur diperkirakan akan berlangsung alot, terutama dalam isu akses pasar pertanian. Apakah Jepang mampu menyeimbangkan kepentingan industri dan perlindungan petani lokal? Ataukah kekhawatiran domestik akan menghambat laju kesepakatan? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan perdagangan Jepang di kawasan yang kaya sumber daya ini.



